Wasiat-Wasiat Indah di Zaman Fitnah

Wasiat-wasiat indah di zaman fitnah.

Ditulis oleh Ustadz Yusuf Abu Ubaidah As Sidawi.

Di tengah gelombang fitnah yang sangat dahsyat di zaman ini, kita butuh wasiat-wasiat salaf sebagai lentera yang menyinari perjalanan kita agar berjalan menuju arah yang benar sesuai petunjuk Allah dan rasulNya, sehingga kita selamat dunia akherat.

Pertama: Wasiat Nabi Muhammad “Kunci Selamat Di Zaman Fitnah”

Dari Uqbah bin Amir رضي الله عنه bahwasanya dia bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم, “Wahai Rasulullah, apa kiat agar selamat?” Nabi صلى الله عليه وسلم menjawab:

امْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ، وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ، وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ

“Jagalah lisanmu, tetaplah di dalam rumahmu, dan menangislah atas segala kesalahanmu.” (HR. Tirmidzi: 2406, Ahmad 5/259, dinyatakan shahīh oleh al-Albani dalam ash-Shahīhah no. 890).

Nabi صلى الله عليه وسلم mengumpulkan tiga perkara yang agung ini agar seorang hamba selamat ketika terjadi fitnah. Tidak ada keselamatan ketika terjadi fitnah kecuali dengan berpegang pada tiga perkara ini:

1. Menjaga lisan

Sungguh betapa banyak dosa manusia karena lisannya! Dan betapa sering fitnah terjadi karena lisannya! Maka selamatlah orang yg pandai menjaga lisannya. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

من صمت نجا

Barangsiapa yang diam, maka selamat. (HR. Tirmidzi 660 dan dishahihkan Al Albani dalam As Shahihah: 536)

2. Tetap di rumah

Terutama ketika terjadi fitnah, agar bisa selamat di tengah fitnah yang melanda. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ

“Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah yang dijauhkan dari fitnah.”(HR. Abu Dawud: 4263, dinyatakan shahīh oleh al-Albani dalam al-Misykāh no. 540)

3. Menangislah atas kesalahanmu

Yaitu menyadari, bahwa dirinya banyak berbuat dosa; dosa yang telah lewat atau sekarang, yang dilakukan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, semuanya dia sesali dengan taubat kepada Allah سبحانه وتعالى. Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah mengajarkan doa:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ، وَجِلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku seluruhnya, yang kecil maupun yang besar, yang dahulu maupun yang belakangan, yang dilakukan terang-terangan maupun tersembunyi. (HR Muslim: 483)

Baca juga: Nasehat Ulama Bagi Penuntut Ilmu

Kedua: Wasiat Khalifah Ali bin Abi Thalib “Jangan Memantik Api Fitnah”

Ada sebuah petuah emas khalifah Ali bin Abi Thalib di zaman fitnah yang perlu kita renungkan dan kita amalkan hari-hari ini, yaitu:

عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه قال: «لاَ تَكُونُوا عُجُلًا مَذَايِيعَ بُذُرًا، فَإِنْ مِنْ وَرَائِكُمْ بَلاَءً مُبَرِّحًا مُكلحًا ، وَأُمُورًا مُتَمَاحِلَةً رُدُحًا» الأدب المفرد للبخاري (327).

Dari Ali bin Abi Thalib berkata: “Janganlah kalian menjadi orang yang tergesa-gesa, gegabah menyiarkan berita dan menabur benih, karena di belakang kalian bencana yang sangat parah, dan perkara-perkara bagaikan ombak yang dahsyat menghantam. (Diriwayatkan Al Bukhari dalam Adabul Mufrad: 327 dan dishahihkan al Albani)

Dalam atsar ini, sahabat Ali mengingatkan kepada kita dari tiga perkara yang sering dilanggar oleh kebanyakan manusia saat fitnah melanda sehingga malah menimbulkan api fitnah semakin membara. Tiga perkara tersebut adalah:

1. Tergesa-gesa, sembrono, ngawur, tanpa memperhatikan konsekwensi perbuatan, karena orang yang seperti itu rawan tersungkur dalam kesalahan dan penyimpangan.

2. Gegabah menshare berita tanpa tabayyun dan kehati-hatian padahal berita belum tentu benar.  Anggaplah memang benar semestinya dipikirkan dulu apakah menyebarkannya mengandung kemaslahatan atau justru mengandung kerusakan?!

3. Menyalakan api fitnah dan menabur benih-benih kerusakan seperti namimah (adu domba), perpecahan dan permusuhan diantara kaum muslimin. (At Tuhaf bil Matsuri Minas Salaf, hlm. 52  karya Syeikh Abdur Rozzaq Al Badr)

Ketiga: Wasiat Sahabat Ibnu Mas’ud “Agar Selamat Saat Fitnah Melanda”

Beliau berkata kepada seorang yang meminta wasiat kepadanya:

لِيَسَعْكَ بَيْتُكَ، وَابْكِ مِنْ ذِكْرِ خَطِيئَتِكَ، وَكُفَّ لِسَانَكَ

“Menetaplah di rumahmu, tangisilah dosa-dosamu dan tahanlah lisanmu”.

Septyan Widianto, [9 Dec 2020 14.41.05]:

(Az-Zuhd hlm. 42 karya Nuaim bin Hammad)

Sebuah wasiat yang sangat agung dari sahabat Abdullah bin Mas’ud kepada seseorang yang meminta wasiat kepada beliau. 

Tiga wasiat emas yang singkat namun padat isinya. Jika seorang mempraktekkanya maka dia akan selamat dari berbagai ujian dan cobaan yang menerpa dirinya  

Tiga wasiat tersebut adalah:

1. Menetap di rumah, terutama saat zaman fitnah, tidak perlu ikut berpartisipasi dan berkecimpung terjun menceburkan diri padanya, karena fitnah itu harus dijauhi bukan malah didekati.

2. Menangisi dosa, karena isak tangis taubat hamba bisa meredam bencana yang melanda, sebab dosa adalah biang kerok segala petaka di dunia. Tidak ada obat penawar yang lebih baik dari isak tangis taubat manusia.

3. Menahan lisan, karana lidah adalah sumber dosa dan kerap menjadi pemantik fitnah yang membara. Mengerem lidah berati membendung derasnya fitnah.

Keempat: Wasiat Sulaiman Al-A’masy “3 Wasiat Emas Di Zaman Fitnah”

Al Khollal meriwayatkan dalam As Sunnah : 91 dengan sanad shahih dari Sufyan bin ‘Uyainah, beliau berkata: Tatkala Walid bin Yazid terbunuh, ada seorang di Kufah yang aslinya dari Syam, dia orang yang sangat cerdas (Sulaiman Al- A’masy). 

Dia mengatakan kepada Khalaf bin Hausyan tatkala terjadi fitnah: Kumpulkanlah orang-orang yang ada di sini dan buatkanlah makanan. Tatkala mereka berkumpul, Al A’masy mengatakan: 

أنا لكم نذير ! كف رجل يده وملك لسانه وعالج قلبه

“Aku memberikan peringatan kepada kalian. Seorang diantara kita hendaknya menahan tangannya, mengerem lisannya dan memperbaiki hatinya.”

Tatkala sampai ucapan ini kepada Imam Ahmad bin Hanbal, beliau berkata: Lihatlah kepada A’masy, alangkah bagusnya ucapannya padahal beliau seorang yang tempramen!

Ya, beliau memang tempramen sifatnya karena manusia, namun beliau berhenti mengikuti garis dalil.

Subhanallah, wasiat yang singkat namun sangat berharga dan bermanfaat sekali jika kita menghayatinya.

Baca juga: 4 Nasehat Ulama Bagi Penuntut Ilmu Salafiyyin

Kelima: Wasiat Imam Adz-Dzahabi 

Beliau mengatakan:

“Apabila fitnah melanda maka:

  1. Berpeganglah dengan sunnah
  2. Banyaklah diam
  3. Jangan berkecimpung dalam hal yang tidak bermanfaat
  4. Dan jika engkau kesulitan,  maka kembalikan kepada Allah dan rasulNya
  5. Berhentilah dan katakanlah “Allahu A’lam (Allah lebih tahu)”. (Siyar A’lam Nubala 20/141)

Keenam: Wasiat Syeikh Shalih Alu Syeikh “Lisan Di Saat Fitnah”

Syeikh Shalih Alu Syeikh رحمه الله berkata:

“Dahulu para salaf di saat fitnah melanda mereka memperbanyak diam dan sedikit bicara. Oleh karenanya, ucapan mereka dikenang dan dinukil.

Sedangkan orang belakang, mereka banyak bicara, bahkan lebih banyak bicara lagi saat fitnah melanda, ini merupakan kurangnya ilmu”. (Ath Thariqu Ila Nubughil Ilmi, hlm. 309)

Demikian wasiat-wasiat emas para salaf. Semoga bermanfaat.

Silakan dibagikan:

Leave a Comment