Home » Coretan Tinta » Tidak Ada Yang Sia-Sia Tentang Dia

Tidak Ada Yang Sia-Sia Tentang Dia

Tidak ada yang sia-sia tentang Dia.

Kenyataannya begini:

Sebagian meminta kajian kita direkam. Lalu kita rekam audionya. Sebagian meminta kemudian direkam secara visual. Lalu kita upload videonya dan belum tentu mereka menyaksikan.

Sebagian meminta kemudian agar dijadikan live streaming. Lalu kita siarkan secara live dan belum tentu mereka menyaksikan.

Lalu…

Sebagian beralasan miskin kuota, meminta ada rekaman mp3 karena itu sangat membantu. Lalu kita convert video ke mp3 dan upload dan belum tentu mereka mendownload.

Pun mereka tetap suka menonton video hiburan di IG dan YouTube. Sebagian meminta ada grup WA untuk info kajian dan faedah dari kami. Lalu kami turuti dan belum tentu mereka masuk ke grup.

Lalu…

Sebagian meminta kami membuat website, IG dan Telegram. Lalu kita turuti semua itu dan belum tentu juga mereka mengambil faedah dari itu semua.

Dan ketika kita mengamini keinginan semua saran mad’u, rupanya itu membutuhkan dana yang tidak ringan. Kian banyak kita amini, pengeluaran semakin membengkak.

Sebagian menyarankan agar kita buka penggalangan donasi rutin. Lalu kita buat. Namun sebagian menyindir dakwah jangan minta-minta.

Bahkan saya pernah mendengar seseorang mempertanyakan nominal modal untuk membeli peralatan streaming dan editing video suatu masjid yang tiap hari ada kajian.

Tidak hanya mempertanyakan, bahkan cukup merendahkan kalimat mereka. Sebagian bertanya, ‘Masak untuk dakwah aja sampai sebegitunya modalnya?!’

Begitulah ketika yang mereka tahu hanya versi jadinya dan versi enaknya. Jika dahulu orang pergi ngaji harus jalan kaki berkilo, kini mereka tinggal lihat jadwal terdekat dan tersedia motor.

Jika dahulu murid harus banyak berkorban waktu, perasaan dan uang, kini justru guru yang berpahit. Pun sebagian murid hanya mau menisbatkan diri ke gurunya ketika ia mendapatkan serpihan dunia dari guru.

Semua itu mengakibatkan penuntut ilmu meremehkan ilmu dan ahlinya. Semua berkomentar padahal tidak tahu bagaimana urusannya dan memang mereka tak ada urusannya.

Suatu ketika, saya mendengar seseorang sedang banyak mereview nama-nama ustadz. Ia sedikit berbisik dengan rekan sampingnya.

Saya mendengar. Tetibanya jatuh review dia ke nama saya. Seketika ia merendahkan suaranya. Namun saya tetap bisa menyimaknya. Dia sepertinya kurang cocok dengan saya.

Katanya, dia tidak bisa memahami penjelasan kajian saya. Dan menurut dia, rata-rata jemaah pada melongo saja belum tentu mereka paham. Beginilah di antara cerminan penuntut ilmu zaman sekarang. Orangnya ada di samping pun masih penuh celah untuk dighibahi.

Tak lama kemudian, adzan berkumandang.

Saya mendapatkan obat untuk hati saya saat itu adalah

أشهد أن لا إله إلا الله

“Saya bersaksi bahwa tiada yang berhak disembah melainkan Allah.”

Dan saya tahu bahwa cercaan, ujian dan tantangan Rasulullah jauh lebih besar. Saya dan lainnya hanyalah mendapat ujian tak seberapa. Jika kita semua berhenti, setan mengumandangkan kemenangan. Jika semua kicauan bodoh kita tanggapi, habislah umur kita untuk itu.

Namun jika tujuan kita adalah Allah, maka tidak ada yang sia-sia tentang Dia.

Ditulis oleh Ustadz Hasan al-Jaizy.

Artikel: SeptyanWidianto.web.id

[artikel number=4 tag=”dakwah”]

Silakan dibagikan:

Leave a Comment