Tawasul Dengan Amalan Shaleh

Tawasul dengan amalan shaleh.

Tawasul yang Disyariatkan yaitu Dengan Amalan Shaleh

Di antara tawasul yang disyariatkan adalah tawasul dengan amalan shaleh saat berdoa. Di antara dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

رَّبَّنَآ إِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِيٗا يُنَادِي لِلۡإِيمَٰنِ أَنۡ ءَامِنُواْ بِرَبِّكُمۡ فَ‍َٔامَنَّاۚ رَبَّنَا فَٱغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرۡ عَنَّا سَيِّ‍َٔاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ ٱلۡأَبۡرَارِ 

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.” [Q.S. Ali Imran: 193]

Di ayat tersebut, hamba yang beriman bertawasul dengan keimanannya untuk memohon ampun dosa dan salah serta memohon diwafatkan bersama orang-orang baik.

Begitu juga firman Allah Ta’ala:

إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ  ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ 

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus.” [Q.S. Al-Fatihah: 5-6]

Di dua ayat tersebut, ada isyarat menuju syariat tawasul dalam berdoa dengan amalan shaleh, yaitu tauhid. Di ayat 5, penyebutan realisasi tauhid dari segi tujuan beribadah dan tujuan iti’anah. Di ayat 6, barulah terucapkan suatu permohonan besar, yaitu memohon hidayah menuju jalan lurus. 

Karena agungnya ayat tersebut, maka ia menjadi contoh yang sangat kuat bagi hamba Allah agar bertawasul dengan amalan shalehnya dalam berdoa. Hal itu tidak mengikis pahala dan menguranginya. 

Adapun dalam hadits, di antara contoh yang paling nyata adalah hadits 3 pria terjebak di dalam gua. 

Tawasul Dengan Amalan Shaleh Mudah Tapi Terasa Berat

Tawasul dengan amalan shaleh sangatlah mudah. Dan dengan mudahnya itu, kerap bagi sebagian pihak terasa berat, entah disebabkan terbiasa dengan tawasul bid’ah (atau bahkan syirik), atau memang kesalahan mindset, seperti menganggap tawasul dengan amalan saleh akan menghapus atau mengurangi pahala amalan. 

Maka, beramallah dan bertawasullah dengannya hanya di hadapan-Nya saat meminta kepada-Nya.

Ditulis oleh Ustadz Hasan al-Jaizy.

Baca juga:

Silakan dibagikan:

Leave a Comment