Shalat Gerhana Boleh Dikerjakan Sendirian

Shalat Gerhana Boleh Dikerjakan Sendirian.

Shalat Gerhana Perkara Yang Disyariatkan

Shalat gerhana adalah perkara yang disyariatkan ketika terjadi gerhana matahari atau gerhana bulan. Dari Abu Mas’ud Al Anshari radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِمَا عِبَادَهُ ، وَإِنَّهُمَا لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ مِنْ النَّاسِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهَا شَيْئًا فَصَلُّوا وَادْعُوا اللَّهَ حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُمْ

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak terjadi karena kematian seseorang. Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka SHALATLAH dan berdoalah kepada Allah sampai gerhana selesai” (HR. Bukhari no.1041 dan Muslim no.911).

Baca juga: Keutamaan Shalat 5 Waktu

Hukum Shalat Gerhana Berdasarkan Pendapat Para Ulama

Shalat gerhana menurut jumhur ulama hukumnya sunnah muakkadah. Ini pendapat Syafi’iyah, Hanabilah, dan sebagian Hanafiyah. Dan dikuatkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz.

Bahkan sebagian ulama memandang hukumnya wajib.

Shalat ini hanya dilakukan jika penduduk suatu daerah MELIHAT GERHANA. Karena Nabi sebutkan dalam hadits:

فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهَا شَيْئًا فَصَلُّوا

“… bila kalian melihatnya, maka SHALATLAH …”.

Adapun jika gerhana tidak terlihat, maka tidak disyari’atkan untuk shalat.

Shalat gerhana boleh dikerjakan berjama’ah atau sendiri-sendiri. Al Hajawi mengatakan:

باب صلاة الكسوف تسن جماعة وفرادى إذا كسف أحد النيرين

“Bab shalat kusuf, disunnahkan berjama’ah atau sendiri-sendiri jika terjadi salah satu dari dua gerhana” (Zaadul Mustaqni, hal. 64).

Tata Cara Shalat Gerhana

Boleh dikerjakan di masjid, boleh juga di selain masjid. Namun dikerjakan di masjid itu lebih utama. Al Bahuti mengatakan:

تسن صلاة الكسوف جماعة وفي جامع أفضل لقول عائشة: «خرج رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إلى المسجد فقام وكبر وصف الناس وراءه» متفق عليه. وفرادى كسائر النوافل

“Disunnahkan shalat gerhana berjama’ah dan lebih utama di masjid jami’. Berdasarkan perkataan ‘Aisyah: “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam keluar menuju masjid, beliau berdiri dan bertakbir, dan orang-orang membuat shaf di belakang beliau” (Muttafaqun ‘alaihi). Dan boleh sendiri-sendiri sebagaimana shalat sunnah yang lain” (ar Raudhul Murbi’, hal. 165).

Cara shalat gerhana adalah dengan 2 rakaat, namun 4 kali berdiri dan rukuk. Urutannya:

  1. Takbiratul ihram
  2. Membaca istiftah, ta’awwudz, basmalah
  3. Membaca Al Fatihah dengan jahr
  4. Membaca surat dengan jahr
  5. Rukuk
  6. Berdiri kembali, kemudian membaca ta’awwudz dan basmalah
  7. Membaca Al Fatihah dengan jahr
  8. Membaca surat dengan jahr
  9. Rukuk
  10. I’tidal
  11. Sujud pertama
  12. Duduk di antara 2 sujud
  13. Sujud kedua
  14. Bangkit ke rakaat kedua
  15. Kembali melakukan seperti pada rakaat pertama
  16. Diakhiri dengan tasyahud akhir

Adapun mengenai khutbah setelah shalat, jumhur ulama mengatakan tidak disyariatkan khutbah. Namun Syafi’iyyah berpendapat disunnahkan khutbah dengan 2 kali khutbah dipisah dengan duduk (seperti shalat Jum’at).

Sebagian ulama Hanabilah juga menganjurkan khutbah namun cukup 1 khutbah, ini pendapat yang dikuatkan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin.

Baca juga: Urgensi Ibadah Shalat

Keutamaan Shalat Gerhana

Diantara keutamaan mengerjakan shalat gerhana adalah:

  1. Mengikuti sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.
  2. Menjalankan perintah syari’at
  3. Waktu gerhana adalah waktu mustajab doa
  4. Mempertebal rasa rakut kepada Allah ta’ala
  5. Menambah iman dan taqwa kepada Allah

Semoga kita bisa mengamalkan ibadah yang agung ini walaupun masih di tengah suasana pandemi.

Semoga Allah ta’ala memberi taufik.

Ditulis oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.

Join telegram @fawaid_kangaswad

Silakan dibagikan:

Leave a Comment