Semangat Belajar dan Kesabaran Istri

Semangat Belajar dan Kesabaran Istri.

Kisah Ibnul Qasim Dengan Istrinya

Suatu hari Abu Abdillah Abdurrahman bin Al Qasim Al ‘Ataqi Al Mishri hendak safar ke Madinah untuk belajar kepada Imam Malik bin Anas, pada saat itu istri beliau sedang hamil. Maka ia berkata kepada istrinya :

إنِّي قَدْ عَزَمْتُ عَلَى الرِّحْلَةِ فِي طَلَبِ العِلْمِ، وَمَا أَرَانِي عَائِدًا إِلَى مِصْرَ إِلَّا بَعْدَ مُدَّةٍ طَوِيلَةٍ، فَإِنْ شِئْتِ أَنْ أُطَلِّقَكِ طَلَّقْتُكِ فَتَنْكِحِينَ مَنْ شِئْتِ، وَإِنْ أَرَدْتِ أَنْ أُبْقِيكِ فِي !عِصْمَتِي فَعَلْتُ؛ وَلَكِن لَا أَدْرِي مَتَى سَأَرْجِعُ إِلَيْكِ

“Sesungguhnya aku telah bertekad akan pergi rihlah menuntut ilmu, aku tidak tau kapan akan kembali lagi ke Mesir kecuali setelah waktu yang lama, jika engkau mau aku ceraikan maka aku akan menceraikanmu agar engkau bisa menikah dengan orang yang engkau mau, tapi jika engkau mau terus bersamaku maka aku akan setia denganmu, tapi aku tak tau kapan akan kembali kepadamu!”

Ternyata ia lebih memilih untuk setia menjadi istrinya, dan bersabar menunggu kepulangannya kembali. maka pergilah Ibnul Qasim ke Madinah menuju Imam Malik dan ia menetap di Madinah selama 17 tahun belajar kepada Imam Malik. Sampai beliau dikenal sebagai perawi kitab Al Muwattha’ karya Imam Malik, yang paling shahih dan sedikit kesalahannya. bahkan Imam Malik juga memujinya sebagai seorang yang faqih. begitu juga para ulama seperti Yahya bin Ma’in, An Nasa’i, Ad Daruquthni, Ibnu Abdil Barr juga memuji Ibnul Qasim.

Baca juga: Kunci Kebahagiaan Bagi Suami Istri

Istrinya yang setia menantinya di Mesir telah melahirkan anak lelakinya, maka ia mengasuh dan mendidiknya menjadi tumbuh besar dan dewasa tanpa sepengetahuan ayahanya, karena memang tidak ada kabar selama kepergiannya ke Madinah.

Berkata Ibnul Qasim :

فَبَيْنَمَا أَنَا ذَاتُ يَوْمٍ عِنْدَ مَالِكٍ فِي مَجْلِسِهِ، إِذْ أَقْبَلَ عَلَيْنَا حَاجُّ مِصْرِي شَابٌّ مُلَثَّمٌ، فَسَلَّمَ عَلَى مَالِكٍ، ثُمَّ قَالَ: أَفِيكُمِ ابْن الْقَاسِمِ ؟ فَأَشَارُوا إلَي، فَأَقْبَلَ عَلَيَّ يَعْتَنِقُنِي وَيُقَبِّلُ مَا بَيْنَ عَيْنَيٍّ، وَجَدَتُ مِنْهُ رَائِحَةَ الْوَلَدِ، فَإذا هُوَ ابْنِي الَّذِي تَركَتُ زَوْجَتِي حَامِلًا بِهِ وَقَدْ شَبَّ وَكَبُرَ

“Suatu hari ketika aku berada di majlis Malik, datanglah ke majlis kami seorang jamaah haji dari Mesir ia seorang pemuda yang tertutup (kain) wajahnya, ia mengucapkan salam kepada Imam Malik seraya bertanya: adakah diantara kalian yang bernama Ibnul Qasim? Maka orang-orang yang di majlis menunjukkan kepadaku. Maka pemuda tersebut langsung memelukku dan mencium diantara kedua mataku, dan aku dapati ada bau harum seorang anak, ternyata itulah anakku yang aku tinggalkan ketika ia masih di kandungan istriku, telah tumbuh besar dan menjadi pemuda”.

Ibnul Qasim meninggal di Mesir pada malam jumat bulan shafar tahun 191 H, dalam usia 63 رحمه الله رحمة واسعة.

Tartib Madaarik wa Taqribul Masalik 3/250, Al Qadhi Iyadh, cet. kedua, Kementrian Auqaf Maroko. thn 1403 H. -dengan sedikit tambahan-.

Pertanyaanya, masih adakah wanita zaman sekarang yang seperti ini?

Baca juga: Keutamaan Berakhlak Baik Kepada Orang Lain Terutama Istri

Faidah:

  1. Keberhasilan seseorang karena pertolongan Allah.
  2. Kemudian ada wanita dibelakangnya (Ibu atau Istri) dan kesungguhan dalam belajar
  3. Kesabaran seorang istri ketika ditinggal suami di jalan Allah
  4. Seorang istri yang bersabar akan mendapatkan pahala yang sama dengan suaminya.

Diceritakan oleh Syaikh DR. Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al Qasim hafidzahullah -ketika bercerita tentang neneknya yang bernama Naurah binti Muhammad Az Zauman- (istri Syaikh Abdurrahman bin Qasim), Nenekku berkata:

“Aku selalu kaget dan sedih setiap kali Syaikh Abdurrahman bin Qasim hendak safar (belajar), terlebih kadang safarnya lama berbulan-bulan. suatu hari aku sedikit mengeluh karena akan ditinggal safar, maka ia berkata kepadaku :

أَنتِ خَشِيرَتِي فِي الأَجْرِ أَي شَرِيكَتِي

“Engkau selalu menemaniku dalam pahala yang sama”.

maka setelah itu aku tidak pernah lagi mengeluh setiap kali hendak ditinggal safar”.

WaAllahu A’lam.

Semoga bermanfaat dan menjadi sebab kebaikan dan semangat serta bersabar dalam belajar.

Ditulis oleh Ustadz Muhammad Alif, Lc.

Artikel: SeptyanWidianto.Web.ID

Silakan dibagikan:

Leave a Comment