Saat Sedang Makan Mendengar Adzan

Apa yang dilakukan saat sedang makan mendengar adzan?

Disini saya hanya akan nukilkan fatwa salah seorang ulama kita, Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah, yang pernah ditanya dengan pertanyaan semisal. Dari fatwa beliau itu nanti kita bisa ambil sikap yang baik bagi seorang muslim mukmin dalam kasus yang sering menjadi polemik ini.

Fatwa Syaikh bin Baz Tentang Hukum Puasa Bagi Orang yang Makan Saat Mendengar Adzan

Dan berikut ini penukilan pertanyaan dan jawaban fatwa beliau:

Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah ditanya, “Apa hukum puasa bagi orang yang mendengar adzan, sementara dia masih makan dan minum?”

Beliau rahimahullah menjawab: “Wajib bagi mukmin untuk menahan dari makan, minum dan pembatal lainnya jika telah jelas baginya terbitnya fajar, pada saat puasa wajib, seperti puasa Ramadhan, puasa nazar, dan kafarah. Allah berfirman,

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

‘Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.’ (Q.s. Al-Baqarah:187)

Jika dia mendengar adzan dan dia tahu adzan ini dilakukan setelah terbit fajar maka dia wajib mulai puasa. Namun, jika muazin mulai adzan sebelum terbit fajar maka dia belum wajib puasa, sehingga dia boleh makan atau minum sampai jelas baginya telah terbit fajar.

Jika dia tidak tahu, apakah azan ini setelah terbit fajar ataukah sebelum fajar terbit, sikap yang lebih hati-hati, dia memulai puasa ketika mendengar azan. Tidak mengapa andaikan dia minum atau makan sedikit ketika azan, karena dia belum tahu terbitnya fajar.

Hendaknya Berhati-Hati Dalam Beramal

Sebagaimana dipahami, orang yang berada di dalam kota yang penuh dengan penerangan listrik tidak memungkinkan untuk melihat terbitnya fajar dengan matanya ketika mulai terbit. Akan tetapi, hendaknya dia berhati-hati dalam beramal, dengan memperhatikan azan dan jadwal imsakiyah yang mencantumkan waktu terbit fajar berdasarkan perhitungan jam, dalam rangka mengamalkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لا يَرِيبُكَ

‘Tinggalkan perkara yang meragukan kepada perkara yang tidak meragukan.’

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ

‘Siapa saja yang menjauhi syubuhat (hal yang meragukan) berarti dia telah membersihkan agama dan kehormatannya.’

Wallahu waliyyut taufiq.”

Dari:
(Fatawa Ramadhan, penyusun oleh Asyraf bin Abdul Maqsud, hlm. 201)

Barakallahu fiikum.

Ditulis Oleh Ustadz Abu Ammar Al Ghoyami.

Baca juga:

Silakan dibagikan:

Leave a Comment