Home » Opini » Problematika Celana Cingkrang

Problematika Celana Cingkrang

Celana cingkrang di tengah-tengah masyarakat Muslim Indonesia ini seperti diidentikkan dengan hal yang negatif. Banyak sekali yang beranggapan negatif ketika seorang Muslim menggunakan celana cingkrang dalam kesehariannya.

Begitu banyak stigma negatif tersebut berupa sebutan islam radikal, tidak dekat lagi dengan keluarga, hingga akhir-akhir ini yang santer terdengar adalah disebut Taliban.

Tetapi yang paling banyak terdengar adalah ketika seseorang sudah menggunakan celana cingkrang, maka orang tersebut akan sangat tertutup hingga tidak mengenal keluarga lagi. Sungguh stigma yang sangat negatif.

Padahal menilik penggunaan celana cingkrang ini adalah berdasar pada syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wassallam. Begitu banyak hadist yang membahas tentang larang isbal ( memakai celana/pakaian hingga menutup mata kaki ).

Hadist Anjuran Celana Cingkrang ( Larangan Isbal )

Salah satu hadist yang banyak didapatkan mengenai isbal ini adalah:

Imam Ahmad mencatat sebuah riwayat dalam Musnad-nya (4 / 390) :

( حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مَيْسَرَةَ ، عَنْ عَمْرِو ابْنِ الشَّرِيدِ ، عَنْ أَبِيهِ أَوْ : عَنْ يَعْقُوبَ بْنِ عَاصِمٍ ، أَنَّهُ سَمِعَ الشَّرِيدَ يَقُولُ : أَبْصَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَجُرُّ إِزَارَهُ ، فَأَسْرَعَ إِلَيْهِ أَوْ : هَرْوَلَ ، فَقَالَ : ” ارْفَعْ إِزَارَكَ ، وَاتَّقِ اللَّهَ ” ، قَالَ : إِنِّي أَحْنَفُ ، تَصْطَكُّ رُكْبَتَايَ ، فَقَالَ : ” ارْفَعْ إِزَارَكَ ، فَإِنَّ كُلَّ خَلْقِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حَسَنٌ ” ، فَمَا رُئِيَ ذَلِكَ الرَّجُلُ بَعْدُ إِلَّا إِزَارُهُ يُصِيبُ أَنْصَافَ سَاقَيْهِ ، أَوْ : إِلَى أَنْصَافِ سَاقَيْهِ

Sufyan bin ‘Uyainah menuturkan kepadaku, dari Ibrahim bin Maisarah, dari ‘Amr bin Asy Syarid, dari ayahnya, atau dari Ya’qub bin ‘Ashim, bahwa ia mendengar Asy Syarid berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat seorang laki-laki yang pakaiannya terseret sampai ke tanah, kemudian Rasulullah bersegera (atau berlari) mengejarnya. Kemudian beliau bersabda:

angkat pakaianmu, dan bertaqwalah kepada Allah“. Lelaki itu berkata: “kaki saya bengkok, lutut saya tidak stabil ketika berjalan”. Nabi bersabda: “angkat pakaianmu, sesungguhnya semua ciptaan Allah Azza Wa Jalla itu baik”. 

Sejak itu tidaklah lelaki tersebut terlihat kecuali pasti kainnya di atas pertengahan betis, atau di pertengahan betis.

Hadits ini shahih, semua perawinya tsiqah. Ya’qub bin ‘Ashim dikatakan oleh Ibnu Hajar: “ia maqbul” . Namun Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Dan demikian juga Adz Dzahabi yang berkata: “ia tsiqah”. Maka inilah yang tepat insya Allah. Al Albani berkata: “sanad ini sesuai syarat Bukhari-Muslim jika (Ibrahim meriwayatkan) dari ‘Amr dan sesuai syarat Muslim jika dari Ya’qub. Dan yang lebih kuat adalah yang pertama (dari ‘Amr)” (Silsilah Ash Shahihah, 3/427).

Kemudian pula Rasulullah shallallahu alaihi wassallam mengingkari sahabatnya yang isbal tanpa mengecek maksud sahabat tersebut ber-isbal karena suatu maksud yang mengandung kesombongan atau tidak. Dan ini sering beliau lakukan kepada para sahabat, diantaranya juga kepada Ibnu ‘Umar:

مَرَرْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي إِزَارِي اسْتِرْخَاءٌ فَقَالَ: يَا عَبْدَ اللَّهِ ارْفَعْ إِزَارَكَ! فَرَفَعْتُهُ. ثُمَّ قَالَ: زِدْ! فَزِدْتُ. فَمَا زِلْتُ أَتَحَرَّاهَا بَعْدُ. فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ: إِلَى أَيْنَ؟ فَقَالَ: أَنْصَافِ السَّاقَيْنِ

“Aku (Ibnu Umar) pernah melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sementara kain sarungku terjurai (sampai ke tanah). Beliau pun bersabda, “Hai Abdullah, naikkan sarungmu!”. Aku pun langsung menaikkan kain sarungku. Setelah itu Rasulullah bersabda, “Naikkan lagi!” Aku naikkan lagi. Sejak itu aku selalu menjaga agar kainku setinggi itu.” Ada beberapa orang yang bertanya, “Sampai di mana batasnya?” Ibnu Umar menjawab, “Sampai pertengahan kedua betis.” (HR. Muslim no. 2086)

Hadist-hadist di atas menerangkan tentang Rasulullah shallallahu alaihi wassallam melarang laki-laki untuk berpakaian isbal. Sehingga celana cingkrang ini merupakan bagian dari syariat Islam.

Tetapi memang ada beberapa kelompok, yang terlihat berpakaian ‘nyunnah‘ sebagai mana menjalankan sunnah Nabi shallallahu alaihi wassallam tersebut berpaham menyimpang.

Menyimpang dalam hal pemahaman, mereka berpakaian ‘nyunnah‘ tetapi sangat jauh dari apa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wassallam. Menurut ajaran kelompok tersebut, orang-orang yang bukan bagian kelompok mereka maka akan dianggap sebagai najis, bahkan kepada kedua orang tua mereka pun dianggap seperti itu.

Hal-hal seperti itulah yang pada akhirnya mencoreng citra Muslim taat yang senantiasa menjalankan sunnah Nabi shallallahu alaihi wassallam dengan menggunakan celana cingkrang.

Pemahaman bahwa celana cingkrang itu merupakan bagian dari syariat Islam harus terus didengungkan. Dengan mempertontonkan akhlak yang baik sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah tentu akan membawa hal yang positif ditengah ramainya atau buruknya pandangan tentang celana cingkrang karena adanya kelompok-kelompok bertopeng ‘nyunnah’ tetapi pada dasarnya adalah sesat.

Semoga Allah ta’ala senantiasa memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua. Semoga Allah ta’ala juga memudahkan kita semua dalam menjalankan sunnah-sunnah Nabi shallallahu alaihi wassallam, dan menjaga dakwah Islam yang murni berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah serta pemahaman para Salaf.

Ditulis oleh: Septyan Widianto

Silakan dibagikan:

Leave a Comment