Home » Opini » Pemikiran yang Salah Tentang Virus Covid-19

Pemikiran yang Salah Tentang Virus Covid-19

Pemikiran yang Salah Tentang SARS-CoV-2, Virus Penyebab Penyakit Covid-19

Pemikiran Yang Salah Tentang Virus Covid-19

Angka kematian SARS-CoV-2 lebih rendah (4%) dibandingkan SARS-CoV (11%) dan MERS-CoV (34%), jadi tidak usah takut, apalagi 80% gejala SARS-CoV-2 itu ringan dan sembuh sendiri.

Berikut penjelasannya:

Ketika wabah Covid-19 (nama resmi penyakit karena infeksi SARS-CoV-2) merebak, orang-orang meremehkannya dengan alasan:

“Ahhh … kan mayoritas gejalanya ringan dan sembuh sendiri.”

“Angka kematian lebih rendah (+/- 4%) dibandingkan SARS-CoV (+/- 10-11%) dan MERS-CoV (+/- 34%)”

Jadi, buat apa khawatir berlebihan?

Ini pemikiran orang yang tidak tahu sejarah dan bagaimana sudut pandang berpikir dari sisi virologist yang berusaha menghentikan persebaran virus (containment).

Baca juga: Waktu Disunnahkan Cuci Tangan

Mengapa?

Jika suatu virus itu gejalanya ringan, orang tidak sadar bahwa dia terinfeksi.

Dia tidak ada keinginan ke rumah sakit, sehingga tidak diisolasi.

Dia bisa jalan-jalan ke mana yg dia suka, tapi di saat yg sama dia terus menyebarkan virusnya.

Akibatnya apa?

Transmisi virus semakin luas dan sulit dihentikan dan dikendalikan. Sehingga JUMLAH ABSOLUT orang yang terinfeksi semakin banyak (per 19 maret, sudah 234.000 orang terinfeksi).

Meski persentase angka kematian rendah, tapi JUMLAH ABSOLUT kematian menjadi tinggi (per 19 maret sudah mencapai 9,840 alias sekitar 4%).

Jadi, ini menjadi latar belakang, mengapa SARS-CoV-2 menjadi PANDEMI (wabah yang meluas di semua benua).

Berbeda dengan jika virus itu menyebabkan angka kesakitan yang berat seperti MERS-CoV dengan angka kematian 34%.

Ketika terinfeksi MERS-CoV, orang sadar dia sakit, akhirnya dia pergi ke rumah sakit, dia langsung diisolasi, kemudian protokol contact tracing jalan, jadi virusnya lebih mudah dihentikan transmisinya.

Itu latar belakang mengapa MERS-CoV akhirnya cuma jadi EPIDEMI (wabah yang terbatas di wilayah atau benua tertentu saja), tidak sampai PANDEMI.

Jadi lihat perbandingannya:

Angka kematian karena *SARS-CoV-2* : 9,840 kematian.
Jumlah yang terinfeksi SARS-CoV-2: 234.000 (data per 19 Maret).

Jumlah absolut orang yang terinfeksi selama wabah MERS-CoV: 2,494 orang
Angka kematian 34%, jadinya: +/- 850 orang.

Jauhhh kan bedanya di angka absolut? (850 vs. 9,840) dan (2,494 vs. 234.000).
Angka itu saja kemungkinan besar akan naik terus.

Situasi yg sama terjadi ketika wabah influenza. Angka kematian wabah karena strain H1N1 kecil, “hanya” 0,4%. Akan tetapi, H1N1 jadi PANDEMI.

Sedangkan angka kematian karena strain H7N9 sangat tinggi, mencapai +/-40%, tapi TIDAK JADI PANDEMI.

Baca juga: Apakah Boleh Azan Menyuruh Shalat di Rumah?

Jadi Jangan Ceroboh Pada Virus Ini

Kalau masih suka berkeliaran, PANDEMI ini tidak akan selesai-selesai. Angka absolut orang terinfeksi makin tinggi, dan akibatnya, yang meninggal juga makin banyak.

Apakah harus nunggu keluarga kita jadi korban dulu, baru sadar?

Referensi: https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMp2000929

Ditulis oleh dr. Muhammad Saifuddin Hakim, Ph.D (Virolog Alumni Erasmus University Belanda | Dosen & Peneliti UGM | Relawan Medis Tim Peduli Muslim)

Artikel: SeptyanWidianto.Web.ID

Silakan dibagikan:

Leave a Comment