Mukmin Yang Kuat Lebih Dicintai

Allah ta’ala memiliki sifat cinta kepada sesuatu.

Kecintaan Allah kepada sesuatu bertingkat-tingkat, kecintaan-Nya kepada mukmin yang kuat [imannya] lebih dalam daripada kecintaan-Nya kepada mukmin yang lemah (imannya).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِل اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah subhanahu wa ta’ala daripada mukmin yang lemah.”
(HR. Muslim)

Orang mukmin yang kuat adalah orang yang menyempurnakan dirinya dengan 4 hal;

  1. Ilmu yang bermanfaat,
  2. Beramal salih,
  3. Saling mengajak kepada kebenaran, dan
  4. Saling menasihati kepada kesabaran.

Adapun mukmin yang lemah adalah yang belum bisa menyempurnakan semua tingkatan ini.

(Bahjat Al-Qulub Al-Abrar wa Qurratu ‘Uyun Al-Akhyar Syarh Jawami’ Al-Alkhbar karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu ta’ala, cetakan Darul Kutub Ilmiyah, hal. 40-46.)

Dari sisi ini, mukmin yang kuat lebih baik daripada mukmin lemah. Hanya saja (sebagaimana lanjutan hadits tersebut),

وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ

“… Masing-masing ada kebaikannya.”

Sebab, keimanan itu seluruhnya baik. Mukmin yang lemah padanya ada kebaikan.

Akan tetapi, mukmin kuat lebih banyak kebaikannya daripada mukmin yang lemah; baik untuk diri sendiri, agama, maupun saudara kaum muslimin.

Wallahu a’lam

Ditulis oleh Ustadz Dr. Musyaffa’ ad Dariny Lc, M.A. hafizhahullah.

Baca juga:

Silakan dibagikan:

Leave a Comment