Home » Artikel Islami » Meninjau Kembali Lafal ‘Misqueen’

Meninjau Kembali Lafal ‘Misqueen’

Meninjau kembali lafal misqueen.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَقُولُوا۟ رَٰعِنَا وَقُولُوا۟ ٱنظُرْنَا وَٱسْمَعُوا۟ ۗ وَلِلْكَٰفِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌۭ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Raa`ina”, tetapi katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”. Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih.”

[Q.S. Al-Baqarah: 104]

Orang-orang Yahudi mengatakan ‘raa’ina‘ demi mengejek atau minimal mempermainkan dan mencandai orang-orang Muslim. Maka Allah larang mengikuti hal tersebut dan digantilah dengan lafal yang syar’i.

Allah Ta’ala berfirman:

مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ

“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula): “Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan): “Raa’ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama.”

Lafal ‘misqueen’ adalah tahrif lafzhy (penyelewengan lafal) yang disengaja, walau sebagai candaan belaka, dari lafal syar’i: ‘miskin’. Baik tulisannya maupun pelafalannya pun berbeda.

Tidaklah mungkin itu terbit kecuali karena candaan. Ini adalah kebiasaan orang-orang Yahudi terhadap agama Allah.

Sayangnya, dibiarkan dan menjadi kebiasaan sebagian pihak Muslim saat ini. Padahal istilah ‘miskin’ ini kita dapatkan dari nash-nash wahyu, dan kaitannya dengan banyak hukum Allah, seperti zakat, jual beli, nikah dan seterusnya.

Alangkah wajibnya kita menghormati istilah-istilah syar’i yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

فَاللَّفْظُ الَّذِي أَثْبَتَهُ اللَّهُ أَوْ نَفَاهُ حَقٌّ؛ فَإِنَّ اللَّهَ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ وَالْأَلْفَاظُ الشَّرْعِيَّةُ لَهَا حُرْمَةٌ

“Lafal yang telah ditetapkan oleh Allah atau dinafikan oleh-Nya adalah haq (kebenaran); karena sesungguhnya Allah berkata benar dan Dia memberi petunjuk kepada jalan (yang lurus). Lafal-lafal syar’iyyah memiliki hurmah (kehormatan).”

[Majmu’ al-Fatawa, 12/114]

Semoga bermanfaat dan penulis harap ini menjadi nasehat untuk saudara Muslim agar lebih baik lagi. Wallahul musta’an.

Ditulis oleh Ustadz Hasan Al-Jaizy.

Artikel: SeptyanWidianto.web.id

[artikel number=4 tag=”akhlak”]

Silakan dibagikan:

Leave a Comment