Meninjau Kaedah “Umum” Dan Keberanian Ibnu Taimiyyah Dalam Kebenaran

Meninjau Kaedah “Umum” Dan Keberanian Ibnu Taimiyyah Dalam Kebenaran.

Kaedah Sebelum Mempelajari Ushul Fiqh

Bagi thullab al-ilm yang pernah mempelajari ilmu Ushul Fiqh secara mendalam atau menyeluruh, mestilah pernah mempelajari kaedah berikut:

ما من عام إلا وقد خصص

“Tidaklah ada keumuman melainkan mesti telah dikhususkan.”

Ditambahkan pula dengan istitsna’ (pengecualian), sehingga:

ما من عام إلا وقد خصص إلا ما استثني

Dan kaedah ini sangat populer di kalangan Ushuliyyun; karena memang itulah yang diajarkan sejumlah ulama Ushul di kitab-kitab mereka; terutama sekali dari kalangan mutakallimin.

Di antaranya Fakhruddin ar-Razy -rahimahullah-:

عُمُومَاتُ الْقُرْآنِ مَخصُوصَة؛ إِلا قَوْلَهُ تَعَالى: {وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيءٍ عَلِيمٌ} [البقرة: 282]

“Lafal-lafal umum dalam al-Qur’an telah dikhususkan, kecuali firman Allah (yang maknanya): “Dan Allah Maha Mengetahui akan segala sesuatu.” [Syarh al-Ma’alim, 1/470]

Begitu pula Saiduddin al-Amidy -rahimahullah-:

حَتَّى إِنَّهُ قَدْ قِيلَ: لَمْ يَرِدْ عَامٌّ إِلَّا وَهُوَ مُخَصَّصٌ إِلَّا فِي قَوْلِهِ، تَعَالَى: {وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ}

“Sampai-sampai dikatakan: tidaklah ada lafal umum kecuali dikhususkan kecuali pada perkataan Allah (seperti contoh yang disebutkan oleh ar-Razy).” [Al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, 2/282]

Sebelumnya pun Abu Ishaq asy-Syirazy dalam “Syarh al-Luma'” menyebutkan hal yang sama. Tak luput setelah beliau dan sebelum ar-Razy, ada al-Ghazaly dalam “al-Mustashfa”. Pada masanya, datang az-Zarkasyi dan al-Asnawy menyatakan hal yang sama, di kitab “al-Bahr al-Muhith” dan “Nihayah as-Sul”.

Mungkin akan ditanyakan: Semua nama tersebut adalah para ulama kibar Ushuliyyun dari kalangan Syafi’iyyah. Apa ada ulama madzhab lain?

Na’am. Ada. Yaitu Ibnu Qudamah al-Hanbaly dalam “Raudhah an-Nazhir”. Dan itu yang kami yakini sebelumnya, sebagaimana itu yang kami pelajari.

Namun kemudian, dengan bergelimangnya tuturan ulama yang berpendapat demikian, mereka hanya menyebutkan contoh yang itu-itu lagi untuk mendukung kaedah mereka -rahimahullah-. Seolah, kaedah tersebut adalah ‘taqlid turunan’ di antara ulama Ushul dengan metodologi kalam.

Baca juga: Sejarah Pergeseran Aliran Teologi Imam-Imam Syafi’iyyah dari Mazhab Salaf ke Asy’ariyyah (Bagian 1)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Membantah Kaedah Keumuman

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tidak tanggung, menyinggung dan membantah kaedah tersebut. Kalimat beliau pun juga sedikit menyengat. Namun bagi yang melihat ke esensi permasalahan dan inshaf, ia akan temukan kebenaran pada kalam Ibnu Taimiyyah dan relevansi kerasnya bantahan beliau.

Ibnu Taimiyyah mengatakan perihal kaedah itu:

فَإِنَّ هَذَا الْكَلَامَ وَإِنْ كَانَ قَدْ يُطْلِقُهُ بَعْضُ السَّادَاتِ مِنْ الْمُتَفَقِّهَةِ وَقَدْ يُوجَدُ فِي كَلَامِ بَعْضِ الْمُتَكَلِّمِينَ فِي أُصُولِ الْفِقْهِ فَإِنَّهُ مِنْ أَكْذَبِ الْكَلَامِ وَأَفْسَدِهِ

“Ucapan seperti ini (yaitu kaedah yang kita pelajari di atas -red), kendatipun dituturkan oleh sebagian ulama terhormat dari kalangan ahli fiqh dan ditemukan di ucapan sebagian ahli kalam dalam Ushul Fiqh, sesungguhnya ia termasuk sedusta-dusta ucapan dan serusak-rusaknya.” [Majmu’ al-Fatawa, 6/442]

Disebutkan oleh Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily -hafizhahullah- dalam kitab kritik beliau terhadap beberapa masalah ar-Razy, pegangan jumhur Ushuliyyun terhadap kaedah tersebut, dari klaim bahwa itu adalah perkataan Ibnu Abbas dan klaim bahwa itu hasil istiqra’. Beliau tuturkan hakikat sebenarnya bahwa riwayat ucapan Ibnu Abbas tidak beliau temukan di kitab turats manapun yang bersanad, dan ditemukan di kitab al-Muwafaqat karya asy-Syathiby. Itu pun asy-Syathiby mengisyaratkan bahwa atsar Ibnu Abbas tidak shahih secara penisbatan. Jikapun shahih, maka perlu penafsiran lagi.

Begitu pula Syaikh Masyhur Salman -hafizhahullah- dalam ta’liq beliau terhadap kitab al-Muwafaqat yang ditahqiq oleh beliau, yang mengatakan bahwa dirinya tidak mendapatkan validitas penisbatan kaedah itu pada Ibnu Abbas, melainkan itu adalah kalam Ushuliyyun semata.

Kembali ke Ibnu Taimiyyah. Beliau -rahimahullah- memberikan rincian bantahan dengan bukti yang bertaburan yang sekiranya seorang thalib dan alim inshaf dengan ilmunya, akan mendapatkan kebenaran yang ditawarkan oleh beliau terlalu jelas. Beliau terangkan bukti pendukung bantahan beliau, mulai dari al-Fatihah di setiap ayatnya, kemudian awal al-Baqarah dan tak luput surat-surat pendek. Bisa dilihat di Majmu’ al-Fatawa 6/441-445 dan diringkas oleh Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily dalam kitab beliau.

Di sini bisa dipelajari keberanian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam menyelisihi nama-nama besar demi kebenaran. Bukan sebatas berani, melainkan berilmu. Yang shahih adalah sebagaimana perkataan beliau:

غالب العمومات القرآن محفوظة لا مخصوصة

“Mayoritas lafal-lafal umum dalam al-Qur’an itu mahfuzhah (tetap pada keumumannya), tidak makhshushah (dikhususkan).”

Kaedah di atas berbalik sekian derajat bertentangan dengan kaedah umumnya ahli Ushul. Bukan karena beliau gagal atau tidak faham, tetapi karena beliau justru memahami lebih dari sebagian ulama dalam masalah ini. Semoga Allah merahmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, ulama-ulama yang disebutkan di tulisan ini dan ulama kaum Muslimin yang telah berjuang di medan mereka.

Wallahul muwaffiq.

Ditulis oleh Ustadz Hasan al-Jaizy.

Silakan dibagikan:

Leave a Comment