Home » Artikel Islami » Menghafal, Pentingkah?

Menghafal, Pentingkah?

Ditulis oleh Ustadz Abu Yusuf Akhmad Jafar.

Tulisan ini hanya ingin cerita saja bukan artikel ilmiah, bahwa di Universitas Islam Madinah ada dua fakultas yang sangat ditakuti karena ada kewajiban hafalan (bukan berarti fakultas lain tidak ada, tapi dua fakultas ini porsinya kemungkinan lebih banyak dan cukup susah).

Yaitu Fakultas Al-Quran dan Fakultas Hadist.

Kalau fakultas Al-Quran, syarat masuknya saja sudah wajib hafal 30 juz belum lagi ketika mendalaminya, sudah pasti menghafal riwayat Al-Quran dan madzumah penunjunganya.

Jadi jangan ditanya kalau anak fakultas Al-Quran sudah hafal Al-Quran atau belum? Karena sudah pasti hafal (mutqin atau tidaknya, tergantung masing-masing pribadi).

Nah, kalau fakultas hadist. Tidak mesti sudah hafal Al-Quran ketika memasukinya, tapi realitanya hampir 90% sudah selesai hafalan Al-Quran. Kalau di Fakultas ini juga wajib menghafal Kitab Al-Muharror karya Ibnu Abdil Hadi berisikan 1324 Hadist.

Ini sudah tradisi turun menurun dari zaman bahela. Dan itu baru di hadistnya, belum di mustolahnya. Sunnah muakkadah menghafal Alfiyah Al-Iroqi yang berisikan 1000 bait (lebih kurang). Dan semuanya setoran di tiap-tiap semester.

Sunnah muakkadah lagi jika menghafal kutub sittah (tapi ndak wajib).

Dua fakultas di atas selalu sepi peminat dari mahasiswa Indonesia.

Banyak dari kita males menghafal, makanya ndak pinter-pinter termasuk saya.

Ini hanya cerita saja, bahwa itu metode di kampus kami. Dan kampus Islam lainnya atau ma’hadnya tidak jauh berbeda dengan ini. Karena menghafal itu penting.

Kalau di Univ. Al-Azhar Kairo dulu, saat ujian lalu ndak hafal muqoror yang ditentukan dosen, maka auto rosib.

Jadi teringat bait di matn Ar-Rohbiyah:

فكل حافظ إمام

“Setiap orang yang hafal itu imam.”

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin pernah mengatakan:

“Kami membaca banyak, tapi tidaklah yang tersisa dari bacaan itu kecuali apa yang kami hafalkan (semakna)”

Syaikh Shalih Al-Ushoimi pernah mengatakan, (maknanya):

Menuntut Ilmu tanpa menghafal itu mustahil.

Tentunya pemahaman tidak kalah penting.

Jadi porsinya sama, antara faham dan hafal.

Jangan sampai, ndak faham dan ndak hafal…. Allahu Mustaan.

Abu Yusuf

Silakan dibagikan:

Leave a Comment