Home » Artikel Islami » Mengetuk Pintu Langit Agar Tidak Kebanjiran

Mengetuk Pintu Langit Agar Tidak Kebanjiran

Upaya mengetuk pintu langit, agar tidak kebanjiran karena curah hujan, atau tersambar petir.

Nikmat Atau Derita Karena Izin Allah

Sobat! Nikmat atau derita yang menimpa anda adalah atas izin dan kuasa Allah. karena itu hanya Allah yang paling layak untuk anda puji atau anda mengadukan derita anda.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (An Nahl. 53)

Baca juga: Bersabar Atas Musibah Yang Menimpa

Beberapa Do’a Untuk Mengetuk Pintu Langit

Dalam rangka mengamalkan sebagian dari makna ayat di atas, maka berikut beberapa doa untuk mengetuk pintu langit.

Semoga Allah berkenan merahmati anda dan menjauhkan anda dari murka-Nya, walaupun diri anda (tentunya juga saya) banyak berlumuran dosa.

1. Suburkan Kesadaran Bahwa Semua Kejadian atas Kuasa Allah

Suburkan dalam diri anda kesadaran bahwa semua kejadian di muka bumi ini atas kuasa dan kehendak Allah.

Sehingga kalau memang anda berharap, maka berharaplah hanya kepada-Nya dan kalau memang harus takut dan khawatir maka takutlah phanya kepada-Nya pula.

Baca juga: Sebab Orang Terjatuh Pada Dosa Masa Lalu

Dahulu bila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyaksikan mendung, beliau khawatir sekaligus mengharap.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir, karena bisa saja mendung atau hujan membawa adzab dan kemurkaan Allah.

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى نَاشِئاً فِي أُفُقٍ مِنْ آفَاِق السَمَاءِ، تَرَكَ عَمَلَهُ- وَإِنْ كَانَ فِي صَلَاةٍ- ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْهِ؛ فَإِنْ كَشَفَهُ اللهُ حَمِدَ اللهَ، وَإِنْ مَطَرَتْ قَالَ: “اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً”

”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila melihat awan (yang belum berkumpul sempurna, pen) di salah satu ufuk langit, beliau meninggalkan aktivitasnya –meskipun dalam shalat- kemudian beliau kembali melakukannya lagi (jika hujan sudah selesai, pen).

Ketika awan tadi telah hilang, beliau memuji Allah. Namun, jika turun hujan, beliau mengucapkan, “Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah jadikanlah hujan ini sebagi hujan yang membawa manfaat.] (Bukhari dalam Al Adab Al Mufrad dll).

2. Memohon Kepada Allah Kebaikan Angin dan Berlindung Dari Kejelekannya

Sewaktu angin berhembus sebagai pertanda akan segera turun hujuan, juga memohonlah kebaikan angin tersebut kepada Allah, dan berlindung dari kejelekannya.

Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menceritakan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam apabila angin bertiup kencang beliau berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ

“Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan angin ini dan kebaikan yang ada padanya dan kebaikan yang dibawanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan yang ada padanya dan keburukan yang dibawanya.” (HR. Muslim 2122).

Sewaktu hujan turun, terus panjatkan doa, memohon kebaikan, dan perlindungan dari petaka.

Baca juga: Jangan Tertipu Dengan Dunia

3. Memohon Keberkahan Hujan dan Berlindung Dari Kejelekannya

Ketika hujan mulai turun, membasahi bumi, maka kembali panjatkan doa memohon keberkahan hujan dan berlindung dari kejelekan hujan.

“اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً”

“Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah jadikanlah hujan ini sebagi hujan yang membawa manfaat.]

4. Panjatkan Do’a Ketika Petir Menyambar

Bila petir menyambar, maka kembali panjatkan doa kepada Allah:

Diriwayatkan dalam kitab al-Muwaththa’ Imam Malik dan lainnya. dengan sanad yang shahih disebutkan, bahwa tatkala mendengar guruh (halilintar) Rasulullah berhenti berbicara dan segera membaca doa:

سُبْحانَ الَّذي يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالمَلائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ

“Mahasuci (Allah) Dzat yang guruh itu bertasbih dengan memuji-Nya, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya.”

5. Berdoa Ketika Hujan Dirasa Terlalu Curah/Deras

Bila hujan dirasa terlalu curah, dan mulai mengawatirkan, maka disunnahkan berdoa, terlebih para imam dan khatib, dengan doa berikut:

اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا ، اللَّهُمَّ عَلَى الآكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan di tempat pemukiman kami, Ya Allah, turukanlah hujan di dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan” (Bukhari dll)

6. Yakini Hujan Turun Atas Kehendak Allah Bukan Musim

Dan bila hujan telah selesai, maka jangan lupa bahwa hujan turun atas kehendak Allah bukan karena musimnya atau alasan sepele lainnya.

Baca juga: Baik dan Buruk Ucapkan Alhamdulillah

Sahabat Zaid bin Kholid Al Juhani mengisahkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau menunaikan shalat shubuh bersama para sahabat di daerah Hudaibiyah setelah hujan turun pada malam harinya.

Tatkala selesai menunaikan shalat, beliau menghadap kepada jama’ah shalat, lalu mengatakan, ”Apakah kalian mengetahui apa yang dikatakan Rabb kalian?”

Sepontan para sahabat mengatakan,”Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِى مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ. فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا. فَذَلِكَ كَافِرٌ بِى مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ »

“Pada pagi hari ini, diantara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir kepada-Ku.

Siapa yang mengatakan ’Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih’ (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah), maka dialah yang beriman kepada-Ku dan kufur terhadap bintang-bintang.

Sedangkan yang mengatakan ‘Muthirna binnau kadza wa kadza’ (Kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan itu), maka dialah yang kufur kepada-Ku dan beriman pada bintang-bintang.” (Bukhari & Muslim)

Semoga bermanfaat.

Ditulis oleh Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA.

Artikel: SeptyanWidianto.web.id

[artikel number=4 tag=”aqidah”]

 

Silakan dibagikan:

Leave a Comment