Kumpulan Hadist-Hadist Lemah dan Palsu Seputar Bulan Sya’ban

Kumpulan hadist-hadist palsu seputar Bulan Sya’ban.

Ketika memasuki Bulan Sya’ban, seringkali kita mendapati broadcast message melalui pesan singkat berupa amalan-amalan bulan Sya’ban.

Acapkali dengan broadcast tersebut, memberitahu tentang amalan-amalan yang dapat menghapuskan dosa, dan ganjaran pahala yang begitu besar.

Banyak sekali dari amalan-amalan tersebut membawakan hadist yang belum diketahui kebenarannya untuk meyakinkan pembaca bahwa amalan tersebut dikabarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wassalam.

Membawakan Hadist Dha’if Berbahaya

Dalam broadcast message atau dalam ceramah-ceramah yang berkaitan dengan amalan-amalan khusus di bulan Sya’ban amat berbahaya apabila yang dibawakan adalah hadist dhaif (lemah).

Baca juga: Masalah Bagi Yang Mengaku Muslim

Karena berbohong atas nama Nabi shallallahu alaihi wassalam adalah sebuah perbuatan munkar.

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda:

إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ, مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidak seperti berdusta atas nama selainku. Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka sesungguhnya dia telah menyiapkan tempat duduknya di Neraka.” (HR Al-Bukhari no. 1291 dari Al-Mughirah, Muslim dalam Muqaddimatush-shahih no. 4 dari Abu Hurairah dan yang lainnya)

Sehingga, berhati-hatilah apabila mengamalkan ataupun ikut menyebarkan hadist-hadist yang belum diketahui kebenarannya. Karena sangat berbahaya sekali apabila kita berbohong atas nama Nabi shallallahu alaihi wassalam.

Hadist-Hadist Dha’if Tentang Bulan Sya’ban

Dengan banyaknya menyebar amalan-amalan yang berkaitan dengan Bulan Sya’ban, penulis akan mengumpulkan beberapa hadist-hadist dha’if yang populer dibawakan berkaitan dengan Bulan Sya’ban. Semoga kita terhindar dari menyebarkan amalan-amalan yang tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wassalam.

1. Hadist Berkaitan Keutamaan Bulan Sya’ban

فَضْلُ رَجَبَ عَلَى سَائِرِ الشُّهُوْرِ كَفَضْلِ الْقُرْآنِ عَلَى سَائِرِ الأَذْكَارِ ، وَفَضْلُ شَعْبَانَ عَلَى سَائِرِ الشُّهُوْرِ كَفَضْلِ مُحَمَّدٍ عَلَى سَائِرِ الْأَنْبِيَاءِ ، وَفَضْلُ رَمَضَانَ عَلَى سَائِرِ الشّهُوْرِ كَفَضْلِ اللهِ عَلَى عِبَادِه

“Keutamaan bulan Rajab dari seluruh bulan adalah seperti keutamaan Al-Qur’an dari seluruh dzikir. Keutamaan bulan Sya’ban dari seluruh bulan adalah seperti keutamaan Muhammad dari seluruh nabi. Dan keutamaan bulan Ramadhan dari seluruh bulan adalah seperti keutamaan Allah dibanding dengan hamba-hamba-Nya.” (HR Salafy Al-Hafizh)

Disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Tabyiinul-‘Ajb bimaa Warada fi Fadhli Rajab. Beliau berkata, “Seluruh rijal sanad ini tsiqah kecuali As-Saqathi sesungguhnya dia Aafah. Dan sangat terkenal memalsukan hadits dan mengganti-ganti sanad serta tidak ada seorang pun yang meriwayatkan dengan sanad hadits seperti ini kecuali dia.”

2. Hadist Berkaitan Anjuran Berpuasa di Bulan Sya’ban

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْر

“Jika datang malam pertengahan bulan Sya’ban, maka lakukanlah qiyamul lail, dan berpuasalah di siang harinya, karena Allah turun ke langit dunia saat itu pada waktu matahari tenggelam, lalu Allah berfirman, ‘Adakah orang yang minta ampun kepada-Ku, maka Aku akan ampuni dia. Adakah orang yang meminta rezeki kepada-Ku, maka Aku akan memberi rezeki kepadanya. Adakah orang yang diuji, maka Aku akan selamatkan dia, dst…?’ (Allah berfirman tentang hal ini) sampai terbit fajar.” (HR. Ibnu Majah, 1/421; HR. al-Baihaqi dalam Su’abul Iman, 3/378)

Baca juga: Ibadah Tanpa Henti Bagi Orang yang Berpuasa

Hadits di atas diriwayatkan dari jalur Ibnu Abi Sabrah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari Mu’awiyah bin Abdillah bin Ja’far, dari ayahnya, dari Ali bin Abi Thalib, secara marfu’ (sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Hadits dengan redaksi di atas adalah hadits maudhu’ (palsu), karena perawi bernama Ibnu Abi Sabrah statusnya muttaham bil kadzib (tertuduh berdusta), sebagaimana keterangan Ibnu Hajar dalam At-Taqrib. Imam Ahmad dan gurunya (Ibnu Ma’in) berkomentar tentang Ibnu Abi Sabrah, “Dia adalah perawi yang memalsukan hadits.”[ Lihat Silsilah Dha’ifah, no. 2132]

3. Anjuran Bermaafan Pada Malam Nisfu Sya’ban Agar Diampuni Dosanya

Begitu banyak yang membawakan hadist di bawah ini sebagai permulaan untuk meminta maaf.

إن الله ليطلع ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”

Dengan dalil di atas, banyak yang mengirimkan permintaan maaf. Karena khawatir tidak diampuni dosanya karena khawatir masih ada permusuhan. Bagaimana kekuatan hadistnya?

Hadis ini memiliki banyak jalur, diriwayatkan dari beberapa sahabat, diantaranya Abu Musa, Muadz bin Jabal, Abu Tsa’labah Al-Khusyani, Abu Hurairah, dan Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhum. Hadis dishahihkan oleh Imam Al-Albani dan dimasukkan dalam Silsilah Ahadits Shahihah, no. 1144. Beliau menilai hadis ini sebagai hadis shahih, karena memiliki banyak jalur dan satu sama saling menguatkan. Meskipun ada juga ulama yang menilai hadis ini sebagai hadis lemah, dan bahkan mereka menyimpulkan semua hadis yang menyebutkan tentang keutamaan nisfu syaban sebagai hadis dhaif.

Penutup

Demikianlah hadist-hadist dhaif (lemah) maupun Maudhu (palsu) yang berkaitan dengan bulan Sya’ban.

Bulan Sya’ban adalah salah satu bulan mulia, di mana di dalamnya terdapat banyak kemuliaan. Tetapi berhati-hatilah dalam melakukan amalan-amalan tertentu.

Karena apabila amalan tersebut bukan berasal dari Nabi shallallahu alaihi wassalam, maka akan tertolak. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wassalam:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim no. 1718)

Berada dalam Bulan Sya’ban, mengisyaratkan bahwa kita semakin dekat dengan bulan suci Ramadan. Jadi mari kita tingkatkan lagi semangat kita dalam beribadah agar kita semakin siap untuk menyambut bulan suci Ramadan.

Wallahua’lam.

Artikel: SeptyanWidianto.Web.ID

Silakan dibagikan:

Leave a Comment