Keutamaan Shalat 5 Waktu

Keutamaan Shalat 5 Waktu

Shalat merupakan ibadah yang memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam. Selain itu, banyak keutamaan shalat yang akan didapatkan oleh seorang Muslim.

Shalat merupakan salah satu rukun Islam. Dimana ibadah tersebut adalah yang membedakan antara seorang Muslim dan kafir.

Dalam artikel kali ini, kami akan uraikan apa saja sih keutamaan shalat yang bisa didapatkan oleh seorang Muslim berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah serta para salaf.

Shalat Menghapuskan Dosa-Dosa

Ibadah shalat dapat menghapuskan dosa-dosa kecil. Dari Abu Hurirah radhiallahu’anhu, Nabai Shllallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

الصَّلاَةُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ

“Shalat yang lima waktu, Shalat Jum’at ke shalat Jum’at selanjutnya, ini semua menghapuskan dosa-dosa di antara keduanya, selama tidak melakukan dosa besar.” (HR. Muslim, no 233)

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nab Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ » . قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا »

“Bagaimana menurut kalian jika di depan rumah kalian ada sungai lalu kalian mandi di sana lima kali sehari. Apakah ada kotoran di badan yang tersisa? Para sahabat menjawab: tentu tidak ada lagi kotoran yang tersisa. Nabi bersabda: Maka demikianlah shalat-shalat fardhu yang lima, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan manusia dengan shalashalat tersebut.” (HR. Bukhari, no 528, Muslim no 667)

Dari Utsman bin Affan radhiallahu’anhu, bahwa beliau mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ

“Tidaklah ada seorang Muslim pun yang menghadiri shalat wajib, ia membaguskan wudhunya, membaguskan khusyuknya dan rukuknya, kecuali shalat tersebut menjadi kafarah atas dosa-dosanya yang telah lalu, selama dijauhi dosa besar Dan itu berlaku sepanjang waktu.” (HR. Muslim, no. 228)

Jika satu kali shalat menhapuskan dosa-dosa., bagaimana jika lima kali shalat dalam sehari? Bagaimana dengan shalat yang dilakukan dalam dua hari? Bagaimana dengan shalat yang dilakukan selama satu bulan? Dan seterusnya, Subhanallah.... banyak dosa berguguran karena sebab ibadah shalat.

Baca juga: Urgensi Ibadah Shalat

Shalat Mencegah Orang Dari Berbuat Maksiat

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ

“Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al Ankabut: 45)

As Sa’adi menjelaskan, “seorang hamba jika mendirikan shalat, menyempurnakan rukun dan syaratnya, khusyuk dalam mengerjakannya, maka akan terang hatinya, akan suci pikirannya, dan bertambah imannya serta takwanya, semakin semangat berbuat kebaikan dan terkurangi atau bahkan hilang semangatnya untuk berbuat buruk, maka secara otomatis dengan menjaga shalat akan mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (Tafsir As Sa’adi)

Shakat Merupakan Amalan Yang Paling Utama Setelah Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat

Keutamaan shalat selanjutnya seperti dalam hadits ini. Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam ketika ditanya tentang amalan yang paling utama, beliau pertama kali menyebutkan amalan shalat. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu ia berkata:

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَىُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ قَالَ « الصَّلاَةُ لِوَقْتِهَا ». قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَىٌّ قَالَ « بِرُّ الْوَالِدَيْنِ ». قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَىٌّ قَالَ « الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ »

“Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam tentang amalan apa yang paling utama? Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam menjawab: shalat pada waktunya. Ibnu Mas’ud bertanya lagi: lalu apa lagi? Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam menjawab: berbakti kepada kedua orang tua. Ibnu Mas’ud bertanya lagi: lalu apa lagi? Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam menjawab:  jihad fii sabilillah.” (HR. Bukhari, no. 7534, Muslim no. 85)

Perhatikan apa yang diwasiatkan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam kepada Mu’adz bin Jabal ketika Mu’adz diutus untuk berdakwah di Yaman. Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma ia berkata,

لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ « إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ »

“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, ia pun berkata padanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari ahli kitab. Maka jadikanlah dakwah engkau pertama kali pada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah Ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabari mereka bahwa Allah telah mewajibkan pada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah shalat, maka kabari mereka, bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka zakat dari harta mereka, yaitu diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan disalurkan untuk orang-orang fakir di tengah-tengah mereka. Jika mereka menyetujui hal itu, maka ambillah dari harta mereka, namun hati-hati dari harta berharga yang mereka miliki.” (HR. Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19).

Perhatikan bagaiman Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam menjadikan perkara shalat sebagai prioritas kedua setelah dua kalimat syahadat.

Shalat Akan Menjadi Cahaya di Hari Kiamat

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma:

مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوراً وَبُرْهَاناً وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ وَلاَ بُرْهَانٌ وَلاَ نَجَاةٌ وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَىِّ بْنِ خَلَفٍ

“Barangsiapa yang menjaga shalat, maka shalat tersebut akan menjadi cahaya dan petunjuk serta sebab keselamatan baginya di hari kiamat. Barangsiapa yang tidak menjaga shalat, maka ia tidak akan memiliki cahaya, petunjuk dan keselamatan. Dan ia di hari kiamat akan dibangkitkan bersama Qarun, Fir’aun, Hamam dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad 11/41, dishahihkan Ahmad Syakir dalam Takhrij Musnad Ahmad)

Baca juga: Tidak Shalat Jum’at Karena Ada Udzur

Shalat Merupakan Sebab Terbesar Untuk Masuk Surga

Dari Rabi’ah bin Ka’ab Al Aslam radhiallahu’anhu, ia berkata:

كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ فَقَالَ لِى « سَلْ ». فَقُلْتُ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِى الْجَنَّةِ. قَالَ « أَوَغَيْرَ ذَلِكَ ». قُلْتُ هُوَ ذَاكَ. قَالَ « فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ »

“Saya pernah menginap bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam kemudian aku bawakan air wudhu untuk beliau dan kebutuhan-kebutuhan beliau. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam berkata: silakan sebutkan apa yang engkau minta! Rabi’ah bin Ka’ab berkata: aku ingin menemanimu di surga. Rasulullah bertanya lagi: adakah yang lain? Rabi’ah bin Ka’ab berkata: hanya itu Rasulullah. Rasulullah berkata: makan bantulah aku (mewujudkan ini) dengan memperbanyak sujud (yaitu memperbanyak shalat).” (HR. Muslim no. 489)

Shalat Mengangkat Derajat di Sisi Allah

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

(( ألا أدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الخَطَايَا ، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ ؟ )) قَالُوا : بَلَى يا رَسُول اللهِ ؟ قَالَ : (( إسْبَاغُ الوُضُوءِ عَلَى المَكَارِهِ ، وَكَثْرَةُ الخُطَا إلَى المَسَاجِدِ ، وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ ، فذَلِكُمُ الرِّبَاطُ ))

“Maukah kalian aku beritahukan sesuatu yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat kalian? Para sahabat menjawab: Tentu wahai Rasulullah. Beliau bersabada, “menyempurnakan wudhu ketika kondisi sulit, memperbanyak langkah menuju Masjid, serta menunggu dari shalat yang satu ke shalat yang lain, karena itulah ribath, itulah ribath, itulah ribath.” (HR. Muslim no 251)

Dicatat Sebagai Orang yang Shalat Hingga Kembali ke Rumah

Keutamaan shalat selanjutnya jika seorang berangkat ke masjid untuk shalat, kemudian ia berdiam diri di masjid, maka selama ia berada di majelis ilmu dan selama ada di masjid, ia terus dicatat sebagai orang yang sedang shalat hingga kembal ke rumah.

Dari Abu Hurairah radhullahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

إذا تَوضَّأَ أحدُكُم في بيتِهِ ، ثمَّ أتَى المسجدَ ، كان في صلاةٍ حتَّى يرجعَ ، فلا يفعلْ هكَذا : و شبَّكَ بينَ أصابعِهِ

“Jika seseorang berwudhu di rumah, kemudian mendatangi masjid, maka ia terus dicatat sebagai orang yang shalat hingga ia kembali. Maka janganlah ia melakukan seperti ini (kemudian beliau mencontohkan tasybik dengan jari-jarinya)” (HR. Al Hakim, no 744, Ibnu Khuzaimah, no 437, dishahihkan Al Albani dalam Irwaul Ghalil, 2/101)

Tasybk artinya menjalin jari-jemari.

Keutamaan Shalat yaitu Dicatat Amalannya di ‘Illiyyin

Jika seorang berangkat ke masjid berniat untuk shalat, kemudian setelah shalat ada pengajian (majelis ilmu) hingga waktu shalat selanjutnya (semisal pengajian antara maghrib dan isya), maka ia terus dicatat amalan kebaikan yang ia lakukan di masjid, di ‘illiyyin.

Dari Abu Umamah al Bahili radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersab:

صلاةٌ في إثرِ صلاةٍ لا لغوَ بينَهما كتابٌ في علِّيِّينَ

“Seorang setelah selesai shalat (di masjid) kemudian menetap di sana hingga shalat berikutnya, tanpa melakukan laghwan (kesia-siaan) di antara keduanya, akan dicatat amalan tersebut di ‘illiyyin.” (HR. Abu Daud no 1288, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abu Daud)

Dijelaskan oleh Syaikh Sulaiman bin Amir ar Ruhaili hafizhahullah dalam salah satu ceramahnya:

والكتاب في العليين كتاب لا يكسر و يفتح الي يوم القيامة محفو لا ينقص منه سيي

“Catatan amal di ‘illiyyin adalah catatan amal yang tidak akan rusak dan tidak akan dibuka hingga hari kiamat, tersimpan awet, tidak akan terkurangi sedikit pun.”

Demikianlah artikel yang membahas Keutamaan Shalat 5 Waktu. Semoga bermanfaat.

Referensi buku karya Ustadz Yulian Purnama, S.Kom, “Shalatlah Sebagaimana Melihatku Shalat” hal. 16-21.

Photo by Utsman Media on Unsplash

Silakan dibagikan:

Leave a Comment