Home » Artikel Islami » Ketika Si Buah Hati Lahir ( Bag. 1 )

Ketika Si Buah Hati Lahir ( Bag. 1 )

Bahasan singkat berikut menjelaskan beberapa amal yang disunnahkan untuk dikerjakan setelah anak atau buah hati pasangan suami-istri lahir ke dunia, tetapi amat sedikit umat Islam sekarang yang mengamalkannya.

A. Bersyukur Kepada Allah atas Kelahirannya

Apabila sepasang suami-istri telah dikaruniai anak, baik laki-laki maupun perempuan, maka hendaklah keduanya bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya.

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku. (QS. Al-Baqarah : 152)

Tidak boleh merasa kecewa atas keadaan apa pun dari si buah hati, namun hendaklah bersyukur dan bersabar.

B. Memberi Kabar Gembira atau Ucapan Selamat atas Kelahirannya

Jika seorang bayi telah lahir dan menangis kencang, makan dianjurkan bagi siapa yang menghadiri kelahirannya baik dari kalangan wanita atau orang terdekat untuk memberi kabar gembira kepada orang tuanya. Sungguh, dalam kabar ini ada kebahagiaan bagi seorang hamba.

Oleh karena itu, dianjurkan bagi seorang Muslim untuk bersegera membahagiakan saudaranya dan menyampaikan kepadanya sesuatu yang membuatnya senang atau gembira.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam kisah Nabi Ibrahim alaihissallam:

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ

Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail). (QS. Aṣ-Ṣāffāt : 101)

Jika seorang terluput memberi kabar gembira ini, sebab orang tua si bayi telah mengetahui kelahiran tersebut, maka dianjurkan baginya untuk memberi ucapan selamat, yaitu mendoakan kebaikan untuk anaknya. ( Shahih Fiqhis Sunnah. III/219-220)

C. Mentahniknya

Setelah si buah hati lahir, seorang ayah dianjurkan untuk mentahniknya. Tahnik ialah mengoleskan buah kurma yang sudah dilumatkan pada langit-langit mulut seorang bayi.

Dari Abu Musa radhiallahuanhu, ia berkata:

وُلِدَ لِى غُلاَمٌ ، فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ ، فَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ ، وَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ ، وَدَفَعَهُ إِلَىَّ ، وَكَانَ أَكْبَرَ وَلَدِ أَبِى مُوسَى

“Seorang anak terlahir untukku, lalu aku membawanya kepada Nabi, maka beliau memberinya nama Ibrahim. Kemudian beliau mentahniknya dengan sebutir kurma dan mendoakan keberkahan, lantas menyerahkannya kembali kepadaku. Ia adalah anak sulung Abu Musa.” ( HR. Al-Bukhari, no. 5467 dan Muslim no. 2145 )

D. Mendoakannya

Kemudian doakanlah si buah hati dengan kebaikan dan keberkahan. Mislanya dengan doa:

برك الله فيه

“Semoga Allah memberikan keberkahan kepadanya.”

E. Memberikannya Nama

Yang berhak memberikan nama si bayi adalah ayahnya, sedangkan ibu tidak berhak menentangnya. Namun yang lebih afdhal ialah keduanya bermusyawarah dan sepakat terhadap sebuah nama. Jika keduanya berselisih, maka hak pemberian nama diserahkan kepada ayah. ( Shahih Fiqhis Sunnah. III/221 )

Seorang ayah boleh memberi nama si buah hati pada saat baru dilahirkan atau boleh juga pada hari ketujuh setelah kelahirannya.

Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiallahuanhu, ia menuturkan: “Seorang anak terlahir untukku, lalu aku membawanya kepada Nabi, maka beliau memberinya nama Ibrahim. Kemudian beliau mentahniknya dengan sebutir kurma dan mendoakan keberkahan, lantas menyerahkannya kembali kepadaku.” (HR. Al-Bukhari, no. 5467,6198. Lihat Tuhfatul Maudud hal. 168)

Sangat dianjurkan memberikan nama-nama yang baik, indah, dan dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi si buah hati. Demikianlah sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wassallam:

إِنَّ أَحَبَّ أَسْمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبْدُ اللَّهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ

“Sungguh, nama kalian yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim, no. 2132) dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma.

Termasuk nama yang dicintai Allah adalah nama para Nabi dan Rasul. Hal ini berdasarkan jawaban Nabi kepada para Sahabat tentang nama Harun saudara Maryam, padahal Maryam tidak sezaman dengan Nabi Harun dan Harun saudara Maryam itu bukanlah Nabi Harun.

Beliau shallallahu alaihi wassallam bersabda:

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَمُّونَ بِأَنْبِيَائِهِمْ وَالصَّالِحِينَ قَبْلَهُمْ

“Sungguh mereka biasa menamakan (anak-anak mereka) dengan nama-nama Nabi dan orang-orang shalih yang hidup sebelum mereka.” (HR. Muslim, no. 2135)

Selanjutnya: Ketika si Buah Hati Lahir (Bag. 2)

[artikel number=4 tag=”keluarga”]

Silakan dibagikan:

1 thought on “Ketika Si Buah Hati Lahir ( Bag. 1 )”

Leave a Comment