Kepastian Peristiwa Isra’ dan Mi’raj

Kepastian peristiwa Isra’ dan Mi’raj.

Ditulis oleh Ustadz Yusuf Abu Ubaidah As Sidawi.

Peristiwa isra‘ dan mi’raj adalah sebuah kepastian yang harus dipercayai oleh setiap muslim dan muslimah. Tidak ada ruang perdebatan dalam masalah ini. Hal ini telah ditegaskan dalam al-Qur‘an, hadits mutawatir, dan ijma’ ulama kaum muslimin.

Kepastian Peristiwa Isra’ dan Mi’raj

a) Al-Qur‘an

Al-Qur‘an telah mengisyaratkan tentang isra‘ dan mi’raj dalam dua surat yaitu surat al-Isra‘ dan an-Najm. Dalam surat al-Isra‘, Allah menyebutkan tentang isra‘ dan hikmahnya:

سُبْحَـٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًۭا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَـٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَـٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ ﴿١﴾

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjidil Haram ke al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Isra‘ [17]: 1)

Baca juga: Bersabar di Atas Sunnah

Adapun tentang mi’raj, maka diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya:

وَلَقَدْ رَءَاهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ ﴿١٣﴾ عِندَ سِدْرَةِ ٱلْمُنتَهَىٰ ﴿١٤﴾ عِندَهَا جَنَّةُ ٱلْمَأْوَىٰٓ ﴿١٥﴾ إِذْ يَغْشَى ٱلسِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ ﴿١٦﴾ مَا زَاغَ ٱلْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ ﴿١٧﴾ لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ ءَايَـٰتِ رَبِّهِ ٱلْكُبْرَىٰٓ ﴿١٨﴾

Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. (QS an-Najm [53]: 13–18)

b) Hadits

Para pakar ilmu hadits menegaskan bahwa hadits-hadits tentang kisah isra‘ mi’raj mencapai derajat mutawatir. Al-Hafizh Abul Khaththab Umar bin Dihyah Rahimahullahu Ta’ala berkata dalam kitabnya at-Tanwir fi Maulid as-Siraj al-Munir setelah menyebutkan hadits tentang isra’ dari riwayat Anas Radhiallahu’anhu dan mengomentarinya dengan bagus, “Dan sungguh telah mutawatir hadits-hadits tentang isra‘ dari Umar bin Khaththab, Ali, Ibnu Mas’ud, Abu Dzar, Malik bin Sha’sha’ah, Abu Hurairah, Abu Sa’id, Ibnu Abbas, Syaddad bin Aus, Ubai bin Ka’ab, Abdurrahman bin Qarth, Abu Habbah al-Anshari, Abu Laila al-Anshari, Abdullah bin Amr, Jabir, Hudzaifah, Buraidah, Abu Ayyub, Abu Umamah, Samurah bin Jundub, Abul Hamra‘, Shuhaib ar-Rumi, Ummu Hani‘, Aisyah, dan Asma‘ binti Abu Bakar ash-Shiddiq—semoga meridhai mereka semua.

Di antara mereka ada yang menceritakan secara panjang dan ada pula yang secara ringkas sebagaimana dalam kitab-kitab hadits, sekalipun riwayat sebagian mereka tidak memenuhi persyaratan hadits shahih. Hadits tentang isra‘ ini telah disepakati oleh seluruh kaum muslimin dan diingkari oleh kaum zindiq dan mulhidin (munafik yang berkedok Islam).

يُرِيدُونَ لِيُطْفِـُٔوا۟ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفْوَ‌ٰهِهِمْ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوْ كَرِهَ ٱلْكَـٰفِرُونَ ﴿٨﴾

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya. (QS ash-Shaff [61]: 8) (Dinukil oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Quran Azhim (3/28) dan Al-Allamah asy-Syinqithi dalam Adhwaul Bayan (3/4).

c) Ijma’

Para ulama telah bersepakat menetapkan peristiwa isra‘ mi’raj tanpa ada perselisihan di kalangan mereka, bahkan mereka menjadikan hal ini termasuk bagian aqidah dalam kitab-kitab mereka, bahkan mereka mengafirkan orang yang mengingkari peristiwa ini sebab dia telah mengingkari al-Qur‘an dan hadits.

Baca juga: Nasehat Ulama Bagi Penuntut Ilmu

Imam Abdul Ghani al-Maqdisi Rahimahullahu Ta’ala mengatakan dalam aqidahnya, “Para ulama yang mengerti hadits dan kaum beriman telah bersepakat bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan isra‘ (perjalanan malam) dari al-Masjidil Haram ke al-Masjidil Aqsha kemudian dinaikkan ke langit dengan jasad dan rohnya lalu kembali malam itu juga ke Makkah sebelum subuh.” (Al Iqtishad fil Itiqad hlm. 155)

Silakan dibagikan:

Leave a Comment