Kenapa Kita Berpuasa

Kenapa Kita Berpuasa di Ramadhan yang penuh berkah ini?

Saudaraku seiman semoga Allah senantiasa menjaga dan memberikan hidayahNya kepada kita semua.

Apa Saja Alasan Yang Membuat Kita Berpuasa?

insyaAllah kita semua mengetahui arti Puasa, yaitu menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa mulai dari terbitnya matahari sampai terbenamnya dengan niat ibadah. Tetapi jika kita ditanya, kenapa kita berpuasa kira-kira apa jawabannya?

Saudaraku, inilah diantara jawabannya, mudah-mudahan bermanfaat dan menjadikan kita lebih semangat dalam menjalankan ibadah puasa, yaitu:

1. Kita Berpuasa Karena Merupakan Rukun Islam

Kita berpuasa ramadhan karena puasa adalah salah satu rukun islam yang harus dikerjakan oleh setiap muslim dan muslimah ( yang baligh, berakal, sehat, muqim, bersih dari haid dan nifas). Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam :

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun diatas lima perkara : syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, melaksanakan haji dan puasa ramadhan”. (HR. Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16 dari Ibnu Umar radiyaAllahu anhuma)

2. Agar Menjadi Orang Yang Bertaqwa Dengan Sebenar-benarnya.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa”. (Qs. Al Baqarah : 183)

Baca juga: Ibadah Tanpa Henti Bagi Orang yang Berpuasa

3. Karena Mengharap Pahala dan Ampunan dari Allah

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa ramadhan karena iman dan mengharap pahala, niscaya diampuni baginya dosa-dosa yang telah lalu”. (HR. Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 175 dari Abu Hurairah radiyallahu anhu)

4. Agar Dijauhkan dari Api Neraka

Karena puasa adalah perisai/tameng dari Aapi neraka. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam :

الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا العَبْدُ مِنَ النَّارِ

“Puasa adalah perisai yang dijadikan sebagai pelindung seorang hamba dari api neraka”. (HR. Nasa’i no. 2231 dan Ahmad 3/241 dari Jabir radiyallahu anhu dan Utsman bin Abi Al ’Ash radiyallahu anhu dengan sanad yang shahih, dan dihasankan Syaikh Al Albani di shahihul jami’ no. 3867 dab 4308)

Dan sabda beliau:

مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللهِ؛ بَعُدَتْ مِنْهُ النَّارُ مَسِيرَةَ مِئَةَ عَامٍ

“Barangsiapa yang berpuasa sehari di jalan Allah niscaya akan dijauhkan dari api neraka sepanjang perjalanan seratus tahun”. (HR. Thabrani dalam mu’jam ausath 3/309, dari Amru bin ‘Abasah radiyallahu anhu, dan dishahihkan Syaikh Al Albani dalam shahih at targhib no. 1259)

5. Karena Ingin Meraih Derajat yang Tinggi di Sisi Allah

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

عَلَيْكَ بِالصَّومِ لَا مِثْلَ لَه

“Hendaklah engkau berpuasa, karena (puasa) tidak ada bandingannya”. (HR. Nasa’i no. 2222, dari Abu Umamah radiyallahu anhu, dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam shahihul jami’ no. 4045 dan as-shahihan no. 1937)

6. Karena Ingin Meraih Pahala yang Besar Dengan Kesabaran Dalam Menjalankan Ibadah Puasa

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas”. (Qs. Az Zumar : 10)

Dan sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam hadits qudsi :

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa, maka sesungguhnya (puasa itu) untukKu dan Akulah yang akan membalasnya”. (HR. Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 163 dari Abu Hurairah radiyallahu anhu).

Ini menunjukkan besarnya pahala dan keagungan puasa, karena Allah mengkhusukan amalan puasa dan menisbatkan kepadaNya.

7. Karena Ingin Mendapatkan Syafa’atnya Pada Hari Kiamat

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam :

الصِّيَامُ وَالقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ القِيَامَةِ، يَقُولُ الصِّيَامُ : أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهْوَةَ، فَشَفِّعْنِي فِيْهِ، وَيَقُولُ القُرْآنُ : مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ، فَشَفِّعْنِي فِيْهِ، قَالَ : فَيَشْفَعَانِ

“Puasa dan Al-Quran kelak pada hari kiamat akan memberikan syafaat kepada seorang hamba, berkata puasa : Ya Rabb, aku telah menghalanginya dari makan dan syahwat, izinkanlah aku untuk memberi syafaat kepadanya, dan berkata Al Quran : Aku telah menghalanginya dari tidur malam, maka izinkanlah aku untuk memberi syafaat kepadanya, berkata Rasulullah : maka keduanya memberi syafaat”.

(HR. Ahmad no. 6626 dan Al Hakim 1/554, dari Abdullah bin Amru radiyallahu anhuma, dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir dan Syaikh Al Albani di shahihul jami’ no. 3882)

Baca juga: Syafa’at Puasa dan Al-Quran

8. Karena Ingin Surga Melalui Pintu Ar Rayyan

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam :

إِنَّ فِي الجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ : الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ القِيَامَةِ ، لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقُوا ، فَلَمْ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ

“Sesungguhnya di surga terdapat pintu yang disebut Ar Rayyan, pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk (surga) melalui pintu tersebut, tidak ada seorang pun selain mereka yang boleh masuk darinya, jika mereka sudah masuk maka dikuncilah pintu tersebut, sehingga tidak ada seorang pun (selain mereka) yang bisa masuk darinya”. (HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 166 dari Sahl bin Sa’ad radiyallahu anhu).

9. Karena Kita Ingin Dicatat dan Dikumpulkan Bersama Para Syuhada’ dan Shiddiqin

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh ‘Amru bin Murrah Al Juhani radiyallahu anhu ia berkata :

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ أَرَأَيْتَ إِنْ شَهِدْتُ أَنْ لَا إلَهَ إلاَّ اللَّهُ وَأَنَّكَ رَسُولُ اللهِ وَصَلَّيْتُ الصَّلَوَاتِ الخَمْسِ وَأَدَّيْتُ الزَّكَاةَ وَصُمْتُ رَمَضَانُ وَقُمْتُهُ فَمِمَّنْ أَنَا؟ قَالَ: مِنْ الصِّدِّيقينَ والشُّهداءِ

“Seseorang datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan bertanya : wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu jika aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah, aku shalat lima waktu, aku membayar zakat dan aku berpuasa juga mendirikan giyamul lail (shalat teraweh), termasuk golongan siapakah aku? Beliau menjawab : engkau termasuk siddiqin dan syuhada’”. (HR. Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya no. 2212 dan Al Haitsami dalam az zawaaid 1/151, dan dishahihkan Syaikh Al Albani dalam shahih at targhib no. 361 dan 1003)

10. Karena Ingin Mendapatkan Kebahagiaan Dunia dan Akhirat.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam hadits qudsi :

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا : إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ بِفِطْرِهِ ، وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

“Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan yang dirasakannya : apabila berbuka maka ia bergembira dengan buka puasanya, dan apabila berjumpa dengan Rabbnya, maka ia bebahagia dengan puasanya”. (HR. Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 163 dari Abu Hurairah radiyallahu anhu).

Maka barangsiapa yang menginginkan kebahagian dunia dan akhirat hendaknya berpuasa, dan inilah kebahagiaan yang sesungguhnya yang akan dirasakan oleh setiap orang yang puasa.

WaAllahu A’lam.

Bahan pustaka:

  1. Al Wajiz fi fiqhi as sunnah wa al kitab al aziz, Syaikhuna DR. Abdul Adhzim Badawi, dar Ibnu Rajab, cet. Keempat, th. 1430 H 2009 M, Egypt.
  2. Shahih fiqh as sunnah, Syaikhuna Abu Malik Kamal Sayyid Salim, al maktabah at taufiqiyah, Cairo – Egypt.
  3. Tamam al minnah fi fiqhi al kitab wa shahih as sunnah, Syaikhuna Adil bin Yusuf Al-Azzazi, muassasah al-qurtubah, cet. Ketiga, th. 1427 H 2006 M, Egypt.
  4. Al Mulakhas al fiqhi, Syaikh DR. Shaleh bin Fauzan Al Fauzan, dar al ‘ashimah, cet. Pertama, th. 1423 H, Riyadh – KSA.
  5. Shifatu shaumi An Nabi shallallahu alaihi wasallam, Syaikh Ali Hasan dan Syaikh Salim Al-Hilali, dar ibnu hazm, cet. Kedelapan, th. 1426 M/2005 M, Beirut – Libanon.
  6. As shahih min ahkam as shiyam, Abu Abdirrahman Al Hilali, dar nuruddin, cet. Pertama th. 1426 H/ 2005 M, Egypt.

Ditulis oleh Ustadz Muhammad Alif, Lc.

Solo, 4/9/2015

Artikel: SeptyanWidianto.Web.ID

Silakan dibagikan:

Leave a Comment