Keimanan Berupa Perkataan dan Perbuatan

Keimanan berupa perkataan dan perbuatan.

Judul di atas, keimanan berupa perkataan dan perbuatan (al-iman qaul wa ‘amal) merupakan pendapat Salaf ash-Shalih. Itu pula yang dikatakan oleh sekte Khawarij, Mu’tazilah, dan juga yang dipraktikkan oleh orang-orang munafik.

Perbedaan Antara As-Salaf dan Sekte Khawarij, Mu’tazilah dalam Masalah Keimanan

Adapun perbedaan di antara mereka adalah sebagai berikut:

Keimanan Menurut Orang Munafik

Menurut orang munafik keimanan itu berupa perkataan dan perbuatan. Tapi sebatas perkataan di lisan saja dan tidak mencakup perkataan hati (qaul al-qalb). Oleh karena itu al-Quran memberi penegasan,

يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِم مَّا لَيْسَ فِى قُلُوبِهِمْ

“Mereka mengucapkan sesuatu dengan mulutnya apa yang tidak ada dalam hatinya.” [al-Fath : 11]

Demikian pula mereka (orang-orang munafik) menganggap keimanan itu hanya berupa perbuatan anggota tubuh tanpa perlu diiringi dengan perbuatan hati (amal al-qalb).

Dengan demikian keimanan versi mereka adalah keimanan yang terwujud pada lahiriah semata tanpa ada keimanan dalam hati. Itulah mengapa kemunafikan didefinisikan sebagai menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekufuran. Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنۡ يَّقُوۡلُ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَبِالۡيَوۡمِ الۡاٰخِرِ وَمَا هُمۡ بِمُؤۡمِنِيۡنَ‌ۘ‏

“Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.” [al-Baqarah : 8]

Keimanan Menurut Sekte Khawarij dan Mu’tazilah

Sekte Khawarij dan Mu’tazilah pun menyatakan keimanan berupa perkataan dan perbuatan. Akan tetapi mereka beranggapan bahwa keimanan itu akan hilang jika bagian dari keimanan itu hilang misalnya ketika seorang berbuat dosa. Hal ini dilatarbelakang oleh teori mereka yang menyatakan keimanan itu adalah sebuah kesatuan yang tak terbagi-bagi, sehingga ketika sebagian hilang tak mungkin lagi ada iman yang tersisa!

Keimanan Berupa Perkataan dan Perbuatan Menurut Salaf (Ahli Sunnah)

Adapun menurut Salaf (ahli Sunnah) keimanan berupa perkataan, baik secara lahir maupun batin; dan juga berupa perbuatan, baik secara lahir maupun batin. Apabila ada bagian keimanan yang hilang, hal itu tidak melazimkan keimanan hilang seluruhnya selama bagian iman yang hilang itu bukanlah syarat tetapnya iman.

Bagian iman yang hilang itu berakibat pada berkurangnya iman sehingga pemiliknya tetap disebut orang beriman (mukmin) namun keimanannya minim.

Sumber: Ibnu Taimiyah dalam al-Iman al-Awsath hlm. 370.

Baca juga:

Silakan dibagikan:

Leave a Comment