Home » Artikel Islami » Jangan Kau Sakiti Kedua Orang Tuamu

Jangan Kau Sakiti Kedua Orang Tuamu

Jangan kau sakiti kedua orang tuamu.

Perbuatan Durhaka Yang Ada di Masyarakat

Sungguh memprihatinkan.

Sebagian orang menyangka bahwa DURHAKA itu sebatas bila si anak memukuli orang tua, atau mengusir orang tua, atau menghinakannya di depan umum.

Sehingga mereka dengan seenaknya mencampuri urusan pribadi orang tuanya, menyetir orang tuanya, membentak orang tuanya, memarahi orang tuanya, dan seterusnya.

Padahal itu semuanya adalah bentuk durhaka kepada orang tua yang hukumannya akan DISEGERAKAN di dunia.

Jika Allah memasukkan kata uff (ah) kepada orang tua sebagai bentuk tindakan durhaka karena bisa menyakiti hati orang tua.

Baca juga: Sikapmu Pada Orang Tua, Cerminan Perlakuan Anakmu Kelak

Bagaimana dengan tindakan membentak, memarahi, menyetir mereka, mencampuri urusan mereka, dst ?

Yang tentunya jauh lebih menyakiti hati mereka.

Anda ingin mengetahui perasaan mereka?

Bayangkanlah bila anda di posisi mereka

Dan bayangkan betapa pilu dan tersayatnya hati Anda ketika dibentak oleh anak yang anda lahirkan.

Anda perjuangkan hidupnya, Anda korbankan semuanya untuk dia.

Subhanallah.

Dimanakah sikap merendah mereka kepada orangtua yang diperintahkan Alqur’an.

Mana pula belas kasih sayang terhadap orang tua, seorang yang paling banyak berjasa kepada mereka setelah Allah ta’ala?

Jika mereka sudah merasa TIDAK butuh lagi dengan pahala berbakti kepada orang tua yang sangat besar, maka paling tidak harusnya mereka takut dengan sabda Nabi Shallallahu’laihi wa sallam:

Dari Nufai’ bin Al-Harits Ats-Tsaqafi Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوْبَةَ مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ مِنَ الْبَغِى وَقَطِيْعَةِ الرَّحِمِ

“Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya [di dunia ini]–berikut dosa yang disimpan untuknya [di akhirat]–daripada perbuatan melampaui batas (kezaliman) dan memutus silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).”

Baca juga: Semua Terkena Akibatnya

(HR. Tirmidzi, no. 2511; Abu Daud, no. 4902; dan Ibnu Majah, no. 4211. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Ditulis oleh Ustadz Dr. Musyaffa’ ad Dariny M.A.

Artikel: SeptyanWidianto.web.id

Silakan dibagikan:

Leave a Comment