Home » Artikel Islami » Indahnya Ukhuwah Islamiyah

Indahnya Ukhuwah Islamiyah

Indahnya ukhuwah Islamiyah dalam Perspektif Al Quran dan Hadist.

Catatan ringkas dari Tablig Akbar Syaikhuna Prof. DR. Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhailiy hafidzahullah dengan tema Indahnya Ukhuwah Dalam Perspektif Al Quran dan Hadist.

Hak-Hak Sesama Muslim

1. Mencintai Saudara Muslim Lainnya

Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سَوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إلاَّ لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Tiga sifat yang jika ada pada diri seseorang, ia akan meraih manisnya iman:

  • Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari selain keduanya,
  • Ia mencintai seseorang tidaklah mencintainya melainkan karena Allah,
  • Ia membenci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya darinya, sebagaimana ia benci apabila dilempar ke dalam api neraka”.

(HR. Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43).

Baca juga: Cinta Kepada Sesama Muslim

Cinta karena Allah dapat menjadikan iman sempurna, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدْ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ

“Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan melarang (menahan) karena Allah, maka sempurnalah imannya”. (HR. Abu Dawud no. 4681, -shahih-)

2. Berwala, Membela dan Menolong Mukmin Lainnya

Sebagaimana firman Allah:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain”. (Qs. At Taubah : 71)

3. Mencintai dan Berharap Kebaikan Untuk Saudaranya

Mencintai dan berharap kebaikan untuk saudaranya sebagaimana ia mencintai kebaikan tersebut untuk dirinya.

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah sempurna keimanan seseorang dari kalian, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya”. (HR. Bukhari no. 13)

Hadits ini merupkan timbangan/barometer bagi keimanan dan ukhuwah islamiyah. Kalau hadits ini diterapkan setiap muslim niscaya majlis kehakiman, kepolisian, keamanaan akan tutup tidak perlu lagi, karena muslim tidak mendzalimi muslim lainnya.

Perhatikan kisah shahabat muda yang datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam minta izin berzina:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ: إِنَّ فَتًى شَابًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِي بِالزِّنَا فَأَقْبَلَ الْقَوْمُ عَلَيْهِ فَزَجَرُوهُ قَالُوا: مَهْ مَهْ فَقَالَ: ادْنُهْ فَدَنَا مِنْهُ قَرِيبًا قَالَ: فَجَلَسَ قَالَ: أَتُحِبُّهُ لِأُمِّكَ قَالَ: لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ قَالَ: وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأُمَّهَاتِهِمْ قَالَ: أَفَتُحِبُّهُ لِابْنَتِكَ قَالَ: لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ قَالَ: وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِبَنَاتِهِمْ قَالَ: أَفَتُحِبُّهُ لِأُخْتِكَ قَالَ: لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ قَالَ: وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأَخَوَاتِهِمْ قَالَ: أَفَتُحِبُّهُ لِعَمَّتِكَ قَالَ: لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ قَالَ: وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِعَمَّاتِهِمْ قَالَ: أَفَتُحِبُّهُ لِخَالَتِكَ قَالَ: لَا وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ قَالَ: وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِخَالَاتِهِمْ قَالَ: فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهِ وَقَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ فَلَمْ يَكُنْ بَعْدُ ذَلِكَ الْفَتَى يَلْتَفِتُ إِلَى شَيْءٍ

Dari Abu Umamah berkata:

Sesungguhnya seorang pemuda mendatangi Nabi Shallallahu alaihi Wasallam lalu berkata: Wahai Rasulullah! Izinkan aku untuk berzina. Orang-orang mendatanginya lalu melarangnya, mereka berkata: Jangan, jangan.

Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda: Mendekatlah. Ia mendekat lalu duduk kemudian Rasulullah bersabda: “Apa kau menyukainya berzina dengan ibumu?” pemuda itu menjawab: Tidak, demi Allah wahai Rasulullah.Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Orang-orang juga tidak menyukainya berzina dengan ibu-ibu mereka.

Rasulullah bersabda: “Apa kau menyukainya berzina dengan putrimu?” Tidak, demi Allah wahai Rasulullah.Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Orang-orang juga tidak menyukai berzina dengan putri-putri mereka.”

Rasulullah bersabda: Apa kau menyukainya berzina dengan bibimu dari pihak ayah? Tidak, demi Allah wahai Rasulullah. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Orang-orang juga tidak menyukainya berzina dengan bibi-bibi mereka. Rasulullah bersabda: “Apa kau menyukainya berzina dengan bibimu dari pihak ibu?” Tidak, demi Allah wahai Rasulullah. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Orang-orang juga tidak menyukainya berzina dengan bibi-bibi mereka.

Kemudian Rasulullah meletakkan tangan beliau pada pemuda itu dan berdoa; “Ya Allah! Ampunilah dosanya, bersihkan hatinya, jagalah kemaluannya”. Setelahnya pemuda itu tidak pernah melirik apa pun”. (HR. Ahmad no. 22211, -shahih-)

Ini bukti kecintaan Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada Shahabat dan umatnya.

Kalau seandainya seorang yang hendak melakukan kejahatan kepada wanita muslimah kemudian berfikir kalau seandainya terjadi juga bagi keluarganya niscaya dia tidak akan ridha.

Hadits ini kaidah syar’i umum dalam segala muamalah untuk pedagang, suami, guru.

Baca juga: Nasehat Yang Baik

4. Saling Menasihati Muslim Lainnya

Jarir bin Abdillah radiyaAllahu anhu berkata:

بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

“Aku berbaiat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat dan menasihati setiap muslim”. (HR. Bukhari no. 57 dan Muslim no. 56)

Dan sabda beliau shallallahu alaihi wassalam:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ ؟ قَالَ: لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

“Agama itu adalah nasihat. Kami bertanya: Nasihat untuk siapa? Beliau menjawab: Untuk Allah, kitabNya, RasulNya, dan para pemimpin kaum muslimin, serta kaum awam mereka”. (HR. Muslim no. 55)

5. Berlapang Dada Terhadap Muslim Lainnya

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

“Janganlah kalian saling mendengki, saling memfitnah, saling membenci, dan saling memusuhi. Janganlah ada seseorang diantara kalian yang berjual beli sesuatu yang masih dalam penawaran muslim lainnya dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara.

Muslim yang satu dengan muslim yang lainnya adalah bersaudara tidak boleh menyakiti, merendahkan, ataupun menghina. Takwa itu ada di sini (Rasulullah menunjuk dadanya), Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. Seseorang telah dianggap berbuat jahat apabila ia menghina saudaranya sesama muslim. Muslim yang satu dengan yang Iainnya haram darahnya. hartanya, dan kehormatannya”. (HR. Bukhari no. 6064 dan Muslim no. 2564)

Baca juga: Bersabar Saat Mendapat Celaan

6. Husnudzon ( Berprasangka Baik ) Dengan Saudara Muslim Lainnya

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَٰذَا إِفْكٌ مُبِينٌ

“Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata”. (Qs. An Nur : 12).

7. Menunaikan Hak-Hak Sesama Muslim

Sebagaimana yang Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam haditsnya:

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيل:َ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

“Hak seorang muslim terhadap seorang muslim ada enam perkara. Lalu beliau ditanya: Apa yang enam perkara itu ya Rasulullah? Jawab beliau:

  • Jika engkau bertemu dengannya, ucapkankanlah salam kepadanya.
  • Bila dia mengundangmu, penuhilah undangannya.
  • Bila dia minta nasihat, berilah dia nasihat.
  • Bila dia bersin lalu dia membaca tahmid, doakanlah semoga dia beroleh rahmat.
  • Bila dia sakit, kunjungilah dia.
  • Dan bila dia meninggal, ikutlah mengantar jenazahnya ke kubur”.

(HR. Muslim no. 2162)

Baca juga: Memperbaiki Tali Silaturahmi

8. Membantu Sesama Muslim dan Memberi Manfaat Kepada Muslim Lainnya

Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ، وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا، وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخٍ لِي فِي حَاجَةٍ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ -يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ- شَهْرًا، وَمَنْ كَفَّ غَضَبَهُ سَتَرَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ كَتَمَ غَيْظَهُ، وَلَوْ شَاءَ أَنْ يُمْضِيَهُ أَمْضَاهُ، مَلأَ اللَّهُ قَلْبَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رِضًا، وَمَنْ مَشَى مَعَ أَخِيهِ فِي حَاجَةٍ حَتَّى يُثْبِتَهَا، أَثْبَتَ اللَّهُ قَدَمَيْهِ يَوْمَ تَزُولُ الأَقْدَامُ

“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, sedangkan amal yang paling dicintai oleh Allah adalah kebahagiaan yang engkau diberikan kepada diri seorang muslim atau engkau menghilangkan kesulitannya atau engkau melunasi hutangnya atau membebaskannya dari kelaparan.

Dan sesungguhnya (jika) aku berjalan bersama saudaraku untuk menunaikan satu hajat/keperluan lebih aku sukai daripada aku beri’tikaf di masjid ini, yaitu masjid Madinah selama sebulan.

Dan barangsiapa yang meninggalkan amarahnya, niscaya Allah akan tutup aurat (kesalahan)nya. Barangsiapa yang menahan amarahnya padahal ia mampu melakukannya, niscaya Allah ‘azza wa jalla akan memenuhi hatinya dengan rasa aman pada hari kiamat.

Barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk menunaikan satu keperluan hingga keperluan itu dapat ditunaikan baginya, niscaya Allah ‘azza wa jalla akan mengokohkan kakinya di atas shiraath (jembatan) pada hari dimana banyak kaki yang tergelincir padanya”.

(HR. Thabrani – Al Ausath- no. 6026, -hasan-).

Baca juga: Kakunya Saudaramu Karena Dosamu

9. Mendamaikan Saudara Yang Bertengkar dan Berselisih

Sebagaimana firman Allah:

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا

“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya!”. (Qs. Al Hujurat : 9)

Mendamaikan dengan cara baik dan adil, sebagaimana firmanNya :

فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا

“Damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil”. (Qs. Al Hujurat : 9)

Maka wajib bagi setiap muslim untuk memperhatikan hak-hak tersebut dan melaksanakan adab-adab sesama muslim, sehingga terwujud ukhuwah islamiyyah yang sebenarnya.

Semoga Allah memberikan istiqamah kepada kita semua diatas ketaatan dan menjaga persaudaraan kita karena Allah.

وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Ditulis oleh Ustadz Muhammad Alif, Lc.

Unsoed Purwokerto 12/01/20.

Dicatat secara ringkas dari yang disampikan Syaikh hafidzahullah.
Semoga bermanfaat dan menjadi sebab kekuatan ukhuwah islamiyyah.

[artikel number=4 tag=”muamalah”]

Silakan dibagikan:

Leave a Comment