Hukum Seorang Imam Membaca Mushaf Dalam Shalat Sunnah

Hukum seorang Imam membaca mushaf dalam shalat Sunnah.

Ulama berbeda pendapat tentang hal ini.

Pendapat Pertama: Boleh Membaca Dari Mushaf

Dalilnya sebagai berikut:

Dalil Pertama

Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf (2/338) dengn sanad shahih :

حَدَّثنَا ابْنُ عُلَيّةَ عَن أَيُّوبَ قَالَ: سَِمعْتُ القَاسِمَ يَقُولُ: (كَانَ يَؤُمُّ عَائِشَةَ عَبدٌ يَقْرَأُ فِي المُصْحَفِ)

Berkata Al Qasim:

“Aisyah pernah diimamai oleh budaknya dengan membaca mushaf”.

Dalil Kedua

Diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari -secara ta’liq- dalam (Shahihnya 2/216 Al Fath) :

(وَكَانَتْ عَائِشَةُ يَؤُمُّهَا عَبْدُهَا ذَكْوَانُ مِنَ الْمُصْحَفِ)

“Aisyah pernah diimami budaknya bernama Dzakwan, dengan membaca mushaf”.

Berkata Badrud Din Al Aini dalam (Umdatul Qari syarah Shahih Al Bukhari 4/408) :
“Riwayat ini menunjukkan bolehnya membaca dari mushaf ketika shalat”.

Dalil Ketiga

Diriwayatkan Imam Bukhari dalam (Shahihnya no. 516):

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ: (أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ… فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا)

Dari Abu Qatadah Al Anshari ia berkata : “Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah shalat dengan menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Jika sujud beliau letakkan anak itu dan bila berdiri beliau gendong lagi”.

Penulis (Abu Bakar hafidzahullah): Berdasarkan hadits ini maka boleh membawa mushaf ketika shalat untuk dibaca, diqiyaskan dengan perbuatan Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika membawa Umamah dalam shalat, digendong dan diletakkan ketika sujud.

Baca juga: Syafa’at Puasa dan Al-Quran

Dalil Keempat

Bolehnya membaca mushaf dalam shalat adalah pendapat para tahabi’in dan para ulama. seperti :

  1. Imam Muhammad bin Sirin dalam (Al Mushannaf 2/337 Ibnu Abi Syaibah) dan (Al Mushannaf 2/3931 Abdurrazzaq As Shan’ani)
  2. Imam Hasan Al Bashri dalam (Al Mushannaf 2/338 Ibnu Abi Syaibah)
  3. Thabi’iyah Aisyah bintu Thalhah dalam (Al Mushannaf 2/338 Ibnu Abi Syaibah)
  4. Imam Ibnu Syihab Az Zuhri dalam (Al Mashahif hal. 193 Ibnu Abi Dawud).
  5. Imam Malik bin Anas dalam (Aa Mudawwanah 1/194)
  6. Imam An Nawawi dalam (Al Majmu’ 4/95) menyebutkan bahwa ini madzhab Syafi’i
  7. Imam Ahmad dalam (Masaail Imam Ahmad hal. 91 Abu Dawud)
  8. Ibnu Qudamah dalam (Al Mughni 2/280-281)
  9. Ulama lajnah daaimah (Fatwa Bin Baz, Abdurrazaq Afifi, Abdullah Ghudayyan, Abdullah Qu’ud).

Pendapat Kedua: Hukumnya Makruh Seorang Membaca Dari Mushaf

Dalilnya berikut ini:

Dalil Pertama

Diriwayatkan Ibnu Abi Dawud dalam (Al Mashahif hal. 189) dengan sanad dha’if :

عَنِ ابنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللَّه عنْهُما قَالَ: (نَهَانَا أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنْ يُؤَمَّ النَّاسُ فِي الْمُصْحَفِ)

Dari Ibnu Abbas radiyaAllahu anhuma ia berkata : “Kami dilarang Amirul Mukminin Umar radiyaAllahu anhu mengimami orang-orang dengan membaca mushaf”.

Dalil Kedua

Diriwayatkan Ibnu Abi Dawud dalam (Al Mashahif hal. 191) dengan sanad munqati’ (terputus) :

عَنْ سُوَيْدِ بْنِ حَنْظَلَةَ الْبَكْرِيِّ: (أَنَّهُ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ يَؤُمُّ قَوْمًا فِي مُصْحَفٍ فَضَرَبَهُ بِرِجْلِهِ)

Dari Suwaid bin Handhalah Al Bakri, “bahwa ia pernah melewati seseorang yang sedang mengimami suatu kaum dengan membaca mushaf, maka ia memukulnya dengan kakinya”.

Dalil Ketiga

Pendapat para thabi’in dan ulama:

  1. Sai’d bin Al Musayyab, dalam (Al Mashahif hal. 190 Ibnu Abi Dawud).
  2. Hasan Al Bashri, dalam (Al Mushannaf 2/339 Ibnu Abi Syaibah).
  3. Mujahid bin Jabar, dalam (Al Mushannaf 2/3928 Abdurrazzaq As Shan’ani).
  4. Hammad bin Abu Sulaiman dan Qatadah, dalam (Al Mushannaf 2/339 Ibnu Abi Syaibah).
  5. Ibrahim An Nakha’i dalam (Al Mushannaf 2/338 Ibnu Abi Syaibah).
  6. Abu Yusuf bin Ibrahim dan Muhammad bin Al Hasan As Syaibani, dalam (Badai’ As Shanai’ 1/236 Al Kasani).

Pendapat Ketiga: Hukumnya Batal Shalatnya Jika Membaca Dari Mushaf Saat Shalat

Pendapat ketiga ini mengatkan hukumnya batal shalat seseorang jika membaca dari Mushaf baik dalam shalat wajib maupun shalat sunnah. Dalilnya sebagai berikut:

Dalil Pertama

Diriwayatkan Bukari dalam (Shahihnya no. 1199 dan 1216) dan Muslim dalam (Shahihnya no. 538) :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: (كُنْتُ أُسَلِّمُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ فَيَرُدُّ عَلَيَّ فَلَمَّا رَجَعْنَا سَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيَّ وَقَالَ إِنَّ فِي الصَّلَاةِ لَشُغْلًا)

Abdullah radliallahu anhu berkata: Aku pernah memberi salam kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika Beliau sedang shalat maka Beliau membalas salamku. Ketika kami kembali aku memberi salam kembali kepada Beliau namun Beliau tidak membalas salamku. Kemudian Beliau berkata: “Sesungguhnya dalam shalat terdapat kesibukan”.

Dalil Kedua

Ulama yang berpendapat demikian adalah:

  1. Imam Abu Hanifah, dalam (Badai’ As Shanai’ 1/236 Al Kasani).
  2. Imam Ibnu Hazm Ad Dzahiri, dalam (Al Muhalla 4/46 dan 223).

Jawaban Untuk Hadits Ibnu Mas’ud yang Dijadikan Dalil oleh Pendapat Ketiga

1. Bahwa hadits tersebut adalah larangan berbicara dalam shalat, dan bukan larangan membaca dari mushaf dalam shalat.

2. Telah shahih dan jelas bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah mengendong Umamah dalam shalat.

3. Telah shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau pernah maju dan mundur dalam shalat kusuf.

4. Telah shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau ketika shalat pernah menangkap syaithan dan mencekiknya.

5. Secara ‘Urf (kebiasaan) bahwa membaca dari mushaf dalam shalat tidaklah menyibukkan shalat.

6. Bahwa seseorang jika tersibukkan oleh sesuatu dalam shalatnya kemudian ia lupa maka tidaklah batal shalatnya. sebagaimana dalam hadits :

(إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ يُصَلِّي جَاءَ الشَّيْطَانُ فَلَبَسَ عَلَيْهِ حَتَّى لَا يَدْرِيَ كَمْ صَلَّى فَإِذَا وَجَدَ ذَلِكَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ)

“Sesungguhnya bila seseorang dari kalian berdiri mengerjakan shalat, syaitan akan datang menghampirinya (untuk menggodanya) sehingga tidak menyadari berapa rakaat shalat yang sudah dia laksanakan. Oleh karena itu bila seorang dari kalian mengalami peristiwa itu hendaklah dia melakukan sujud dua kali dalam posisi duduk”. (HR. Bukhari no. 1232 dan Muslim no. 389).

Baca juga: Penjelasan Ringkas Shalat Tarawih

7. Telah shahih dari Aisyah ia berkata :

(أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي خَمِيصَةٍ لَهَا أَعْلَامٌ فَقَالَ شَغَلَتْنِي أَعْلَامُ هَذِهِ)

bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam shalat dengan mengenakan baju yang ada gambarnya, lalu beliau bersabda: “Gambar-gambar pada pakaian ini menggangguku”. (HR. Bukhari no. 752 dan Muslim no. 556).
tetapi Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak mengulangi shalatnya.

Pendapat Yang Rajih Tentang Hukum Seorang Imam Membaca Mushaf

Pendapat yang rajih adalah pendapat pertama, bolehnya membaca dari mushaf bagi yang shalat sendirian atau imam shalat tarawih dan shalat lail.

Hukum Membaca Mushaf Dalam Shalat Wajib

Beberapa pendapat dari para Ulama tentang hukum membaca Mushaf dalam shalat wajib.

  1. Imam Malik : Hukumnya makruh. (Al Mudawwanah 1/194).
  2. Imam Ahmad : Tidak boleh. (Masaail Imam Ahmad hal. 91 Abu Dawud) dan (Al Mughni 2/280-281).
  3. Imam Abu Hanifah dan dan Ibnu Hazm : Batal shalatnya. (Badai’ As Shanai’ 1/236 Al Kasani) dan (Al Muhalla 4/46 dan 223).

Hukum Makmum Membaca Mushaf

Dibolehkan jika ada kebutuhan, seperti membenarkan bacaan imam jika salah, adapun jika untuk sekedar mengikuti bacaan imam maka tidak boleh.

Dalilnya adalah riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam (Al Mushannaf 2/338) dengan sanad hasan, berkata Tsabit Al Bunani:

(كَانَ أنَسُ يُصَلِّي وَغُلامُه يُمْسِكُ المُصحَفَ خَلفَهُ، فَإذَا تَعايَا فِي آيَةٍ؛ فَتَح عَلَيهِ)

“Anas bin Malik shalat sedangkan budaknya memegang mushaf dibelakangnya, dan apabila ia ragu atau lupa pada suatu ayat maka budaknya membenarkannya”.

Juga difatwakan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam (Fataawa Ramadhan 2/811).

WaAllahu A’lam.

Semoga bermanfaat, dan bisa menambah ilmu bagi kita semua.

Catatan ini diringkas dari kitab:

(حكم قراءة الإمام من المصحف في قيام رمضان وغيره)
Karya. Abu Bakar Usaman bin Ali Alu Syadid Al Mishri hafidzahullah.

جزى الله المؤلف والناقل خيرا وبارك فيهما

Ditulis oleh Ustadz Muhammaf Alif, Lc.

Artikel: SeptyanWidianto.Web.ID

Silakan dibagikan:

Leave a Comment