Hāthibu Lailin (Pemungut Kayu Bakar Di Malam Hari)

Hāthibu Lailin (Pemungut Kayu Bakar Di Malam Hari)

Apa itu Hāthibu Lailin?

Tahukah anda siapa “Hāthibu Lailin itu”? Berikut penuturan al-Imam Ibnu ‘Uyainah -rahimahullahu- tentang hakikat si Hāthibu Lailin, beliau berkata:

قال لي عبد الكريم الجزري : يا أبا محمد ، تدري ما حاطب ليل؟

قلت: لا، إلا أن تخبرنيه،

قال: هو الرجل يخرج من الليل فيحتطب ، فتقع يده على أفعى فتقتله. هذا مثل ضربته لك لطالب العلم ، إن طالب العلم إذا حمل مِن العلم ما لا يطيقه ، قتله علمه ، كما قتلت الأفعى حاطب ليل.

Abdul Karim al-Jazariy berkata kepadaku: wahai Abu Muhammad, tahukah engkau siapa Hāthibu Lailin itu?

Aku menjawab: tidak tahu, kecuali jika engkau memberitahukannya kepadaku.

Dia (Abdul Karim) berkata: Dia adalah seorang pria yang keluar di malam hari mencari kayu bakar, sehingga tangannya memegang seekor ular berbisa dan ular itupun membunuhnya.

Ini adalah permisalan yang aku buat untukmu dalam menuntut ilmu, jika seorang penuntut ilmu menyandang ilmu yang tidak mampu dipikulnya, maka ilmunya akan membunuhnya, sebagaimana ular berbisa itu telah membunuh Hāthibu Lailin.

[Dikeluarkan oleh al-Baghawiy dalam al-Ja’diyyāt, no. 1048 dengan sanad yang Shahih]

Dari beberapa keterangan guru-guru kami, Hāthibu Lailin itu adalah seorang yang sembarangan dalam mengambil ilmu, dia tidak peduli apa yang dia ambil dan tidak peduli dari siapa dia mengambil ilmu, alias serampangan dalam mengambil ilmu.

Jangan Sembarangan Dalam Mengambil Ilmu

Istilah seperti ini juga mungkin cocok disematkan bagi seseorang yang sembarangan dalam mengutip status atau statement seseorang (baik ustadz atau non ustadz), kemudian diupdate di status Facebooknya, yang penting “ngestatus” seperti emak-emak rempong yang sedang berghibah ria, tidak peduli apa isi pembicaraan yang penting bunyi.

Mungkin ada yang berkata: tapi dia kan ustadz? Tidak mungkin dia sembarangan comot status orang lain?

Jika kita mendapatkan orang seperti ini, maka hendaknya kita berhati-hatilah! Jangan mentang-mentang dia di”ustadz”kan,  mengerti bahasa Arab atau punya banyak followers, kita langsung ikut-ikutan menyebarkan apa yang dia sebarkan.

Al-Uqailiy -rahimahullahu- berkata dalam kitab adh-Dhu’afā (2/438):

” حَدثنا أَحمد بن عَلي الأَبارُ، قال: حَدثنا عَلي بن مَيمون الرَّقّي، قال: حَدثنا أَبو خُلَيد، قال: سَأَلَني سَعيد بن عَبد العَزيز: ما الغالب على عِلم سَعيد بن بَشيرٍ؟ قال: قُلت لَه: التَّفسيرُ، قال: خُذ عنه التَّفسير ودَع ما سِوى ذَلك، فَإِنه كان حاطِب لَيل. ” اهـ .

“Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ali al-Abār, dia berkata telah menceritakan kepada kami Ali bin Maimūn ar-Raqqiy berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Khulaid, beliau berkata: Sa’id bin Abdul Aziz bertanya kepadaku: “mayoritas ilmu Said bin Basyīr itu seperti apa?” aku(Abu Khulaid) menjawab: tafsir, beliau (Sa’id bin Abdul Aziz) berkata: ambil ilmu tafsir darinya dan tinggalkan ilmu selain itu, karena dia itu seorang Hāthibu Lailin.”

Walaupun Sa’id bin  Basyīr adalah seorang yang ahli dalam ilmu Tafsir, tapi Sa’id bin Abdul Azīz tetap memperingtkan agar tidak mengambil ilmunya selain tafsir, kenapa? karena Sa’id bin Basyīr adalah seorang “Hāthibu Lailin”.

Demikian pula ucapan al-Imam adz-Dzahabiy -rahimahullahu- tentang al-Hasan bin Ali al-Ahwāziy:

” كَانَ رَأْساً فِي القِرَاءات، مُعَمِّراً، بعيدَ الصِّيْت، صَاحِبَ حَدِيْثٍ وَرحلَةٍ وَإِكثَار، وَلَيْسَ بِالمُتْقِن لَهُ، وَلاَ المُجَوِّدُ، بَلْ هُوَ حَاطِبُ ليلٍ، وَمَعَ إِمَامتِهِ فِي القِرَاءات فَقَدْ تُكُلِّمَ فِيْهِ وَفِي دعَاويه تِلْكَ الأَسَانِيْدَ العَالِيَة. ” اهـ 

“Dahulu dia adalah seorang tokoh dalam (ilmu) Qirāāt, diberi umur panjang, jauh dari ketenaran, pemilik riwayat hadits dan banyak mengembara (dalam mencari hadits), dan dia tidak mutqin dan tidak terampil didalamnya, bahkan dia adalah seorang “Hāthibu Lailin”, bersamaan dengan ketokohannya dalam ilmu Qirāāt, dia juga dikritik dalam perkara itu, juga (dikritik) dalam klaim-klaimnya terhadap sanad-sanad yang tinggi itu.” (Siyar A’lam an-Nubalā:18/13)

Jika seorang Imam dan ahli Qirāāt saja disebut sebagai “Hāthibu Lailin”, bagaimana lagi dengan seorang “Facebooker”?

Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ) رواه البخاري (6487) .

Sesungguhnya seorang hamba yang berbicara tentang satu kalimat yang mengandung keridhaan Allah, dan dia tidak memperdulikannya, sehingga Allah mengangkat derajatnya. Dan sesungguhnya seorang hamba yang berbicara tentang sebuah kalimat yang mengandung kemurkaan Allah, dan dia tidak memperdulikannya, sehingga dengan hal itu Allah melemparkannya ke dalam Neraka Jahannam.” (HR. al-Bukhāriy, no. 6487)

Cerdaslah dalam bermedia sosial, jangan asal share dan ikut-ikutan menyebarkan sesuatu yang kita sendiri tidak tahu kevalidannya, apalagi menyebarkan tulisan atau status Facebook orang-orang yang menyimpang manhaj dan pemikirannya.

Semoga bermanfaat, dan menjadi nasehat bersama.

(Sebarkan tulisan ini jika menurut anda bermanfaat)

Bārakallahu fiykum.

Bogor, 9 Desember 2020

Abu Zakariyya at-Tawawy

Silakan dibagikan:

Leave a Comment