Fiqih Banjir

FIQIH BANJIR.

Ditulis oleh Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi.

Bencana demi bencana menimpa negeri ini secara bertubi-tubi; tanah longsor, tsunami, kebakaran, gunung meletus, dan yang lagi marak sekarang ini adalah bencana banjir yang akhir-akhir ini banyak menyerang beberapa kota dan dosa. 

Tentu saja, sebagai seorang muslim kita harus yakin bahwa di balik bencana tersebut terkandung hikmah bagi kita semuanya, di antaranya agar kita semua intorpeksi diri dan berbenah diri, bertaubat dan bersimpuh di hadapan Allah.

Sungguh, termasuk kesalahan yang amat fatal jika kita hanya menyakini seperti kebanyakan orang bahwa bencana banjir dan sejenisnya adalah sekadar bencana alam murni tanpa ada sebab dan hikmah di dalamnya.  Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin berkata dalam Atsar Dzunubi wal Ma’ashi (hlm. 9): 

“Sesungguhnya kebanyakan manusia sekarang menganggap bahwa musibah yang menimpa mereka baik dalam bidang perekonomian, keamanan atau politik disebabkan karena faktor-faktor dunia semata. Tidak ragu lagi bahwa semua ini merupakan kedangkalan pemahaman mereka dan lemahnya iman mereka serta kelalaian mereka dari merenungi al-Qur’an dan sunnah Nabi. Sesungguhnya di balik musibah ini terdapat faktor penyebab syar’i yang lebih besar dari faktor-faktor duniawi. Alloh berfirman:

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Alloh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. ar-Rum [30]: 41).”

Peristiwa banjir memang sering terjadi dan menimbulkan berbagai permasalahan yang mendorong kita untuk mengetahui beberapa hukum yang berkaitan dengannya. Berikut beberapa permasalahan dan hukum seputar banjir:

1. Air Banjir, Najiskah?

Hukum asal air adalah suci dan mensucikan. Tidak najis kecuali jika terkena benda najis dan berubah salah satu sifatnya.

Kaidah ini berdasarkan dalil-dalil berikut:

– Dalil Al-Qur’an:

وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَآءِ مَآءً طَهُورًا 

Dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih (QS. Al-Furqon: 48)

– Dalil Hadits

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُ قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللهِ أَنَتَوَضَّأُ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةٍ وَهِيَ بِئْرُ يُطْرَحُ فِيْهَا الْحِيَضُ وَلَحْمُ الْكِلاَبِ وَالنَّتْنُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ  الْمَاءُ طَهُوْرٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ

Dari Abu Said Al-Khudry berkata: Rosululloh pernah ditanya: Bolehkan kita bewudhu dari air Budho’ah yaitu sumur yang padanya terdapat kain darah haidh, kotoran dan daging anjing? Rosululloh n menjawab: Air itu suci, tidak dinajiskan oleh sesuatupun. (HR. Ahmad, Tirmidzi dll, dishahihkan Al Albani)

Dalil Ijma’

Al-Allamah Shidiq Hasan Khon berkata dalam Ar-Roudhoh Nadiyyah (1/53): “Tidak ada perselisihan kalau air mutlak adalah suci dan mensucikan sebagaimana ditegaskan oleh Al-Qur’an, sunnah dan ijma’ serta hukum asal”.

Dengan demikian, maka seluruh air (termasuk air banjir) hukum asalnya adalah suci dan mensucikan sampai ada yang merubah hukumnya menjadi najis, yaitu tercampurnya benda najis sehingga merubah rasa, warna dan baunya, sebagaimana hal ini merupakan ijma’ para ulama.  Ijma’ ini dinukil oleh Ibnu Mundzir dalam Al-Ijma’ (10), An- Nawawi dalam Al-Majmu’ (1/110) dan Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni (1/53) dan lain-lain.

Baca juga: Hikmah Musibah Banjir

2. Wajibnya menolong korban banjir

Menolong korban banjir termasuk kewajiban, bahkan para ulama menyatakan jika seorang muslim yang tengah menjalankan sholat wajib lalu mendapati korban banjir, maka boleh baginya untuk membatalkan sholatnya guna untuk menolong korban tersebut. Jika hanya dia saja yang bisa menolongnya maka hukumnya fardhu ‘ain, namun jika yang lainnya juga bisa menolong maka hukumnya fardhu kifayah sehingga bila tidak ada yang menolong korban maka seluruhnya kaum muslimin berdosa. Rosululloh  bersabda:

“Barang siapa yang membantu menghilangkan kesusahan seorang mukmin di dunia, maka Alloh akan menghilangkan kesusahan darinya besok di hari kiamat.” (HR. Muslim (2699))

Terlebih lagi orang kaya, pengusaha, pemerintah, dan bangsawan, hendaknya mereka mengeluarkan hartanya untuk membantu para korban. Dahulu, tatkala terjadi bencana pada masa Kholifah Umar bin Abdul Aziz, beliau menulis surat kepada para gubernurnya untuk bershodaqoh dan memerintah rakyat untuk bershodaqoh. (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (5/337), Ibnu Abi Dunya dalam al-’Uqubat (no. 23) dengan sanad jayyid (bagus).

3. Harta Zakat Yang Terkena Banjir

Jika seorang telah memiliki harta yang telah mencapai nishob zakat  lalu terbawa oleh arus banjir, maka jika belum berputar setahun (haul) atau sudah tetapi belum sempat untuk mengeluarkan zakat karena ada udzur syar’I maka tidak ada dosa baginya dan gugur kewajiban zakat darinya. Adapun apabila telah berputar setahun dan telah mampu untuk mengeluarkan tetapi dia menyepelehkan dan meremehkan, maka dalam kondisi ini dia punya tanggungan untuk mengeluarkan zakat.

Dan boleh mendahulukan zakat tahun depan untuk diberikan sekarang jika memang telah mencapai ukuran nishob (walaupun belum haul) dengan prediksi karena kebutuhan manusia akibat bencana ini. Hal ini lebih afdhol daripada menunggu untuk dikeluarkan pada bulan Ramadhan.  

4. Zakat Bagi Korban Banjir

Boleh memberikan zakat kepada korban banjir jika mereka menjadi fakir miskin dan berhutang. Hal ini dikuatkan oleh riwayat Muslim 1044 bahwa Nabi bersabda:

يَا قَبِيصَةُ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لاَ تَحِلُّ إِلاَّ لأَحَدِ ثَلاَثَةٍ …وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ 

Wahai Qobishoh, sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal kecuali bagi salah satu dari tiga golongan, diantaranya adalah seorang yang  terkena musibah yang menghilangkan hartanya, maka boleh baginya meminta-minta sehingga dia mendapati penghidupan.

Seorang tabi’in mulia, Mujahid bin Jabr al-Makki berkata: “Tiga golongan termasuk ghorimin (orang hutang): seorang yang hartanya hanyut dibawa oleh banjir, seorang yang hartanya habis oleh kebakaran api dan seorang yang punya keluarga tapi tidak punya harta, maka boleh dihutangi dan dibantu untuk menafkahi keluarganya”.  (Diriwayatkan oleh  Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf 3/207 dengan sanad shahih).

5. Barang Titipan dan Pinjaman Yang Rusak Terkena Banjir

Bila seorang pegawai membawa barang amanat dari kantor atau pabrik lalu rusak atau hilang karena sebab banjir maka tidak ada dosa baginya dan tidak ada kewajiban baginya untuk mengganti bila dia tidak teledor dan tidak melampui batas. Demikian juga pekerja di bengkel, penjahit atau laundry yang kemudian barang  konsumennya hilang atau rusak maka tidak ada kewajiban baginya untuk mengganti. Hal ini sesuai dengan kaidah fiqih:

الأَمِيْنُ لاَ يَضْمَنُ إِلاَّ بِالتَّعَدِّيْ أَوْ التَّفْرِيْطِ

Orang yang terpercaya tidak ada kewajiban mengganti kecuali apabila melampui batas atau teledor. 

 Demikian juga halnya dengan barang pinjaman atau titipin menurut pendapat yang kuat.

6. Harta Haram Terkena Banjir

Adapun harta haram  berupa barang curian, rampokan dan sebagainya yang rusak akibat banjir maka tidak ada perselisihan di kalangan ulama bahwa pencuri dan perampoknya wajib mengganti karena dia melampui batas dan tidak amanah. Ibnu Jizzi al-Maliki mengatakan: “Perampas harta harus mengganti barang yang dia rampas, baik rusak karena bencana atau karena ulah makhluk”. (Al-Qowaninul Fiqhiyyah hlm. 362).

7. Menemukan Barang-Barang Bawaan Banjir

Barang-barang yang terdampar oleh banjir maka hukumnya masuk dalam hukum Luqothoh (barang temuan) baik hilang dari pemiliknya atau sengaja ditinggal oleh pemiliknya karena tidak bisa dibawa seperti mobil atau hewan.

Dan kesimpulan hukum luqothoh adalah:

– Jika barang tersebut murah harganya sehingga biasanya tidak dicari oleh pemiliknya seperti pena murahan atau uang sedikit maka boleh dimiliki langsung oleh orang yang menemukannya dan tidak perlu mengumumkannya kecuali bila dia tahu siapa pemiliknya maka hendaknya diserahkan kepadanya.

– Adapun jika barang-barang yang berharga yang biasanya dicari oleh pemiliknya maka wajib bagi yang menemukannya untuk menjaga dan mengumumkannya selama setahun di tempat-tempat umum serta media. Jika setelah setahun tidak ada yang datang mengakuinya maka boleh dia miliki dengan catatan bila pemiliknya suatu saat datang maka dia harus mengembalikan kepadanya.

Namun sebaiknya bagi pemerintah yang menangani kasus bencana seperti ini dengan mengadakan kantor dan gudang khusus untuk barang-barang hilang akibat bencana untuk memudahkan pencariannya.

8. Asuransi Akibat Bencana

Bagi seorang yang telah ikut asuransi konvensional yang hukum sejatinya haram lalu dia mendapatkan ganti rugi dari asuransi akibat bencana yang dialami, maka boleh baginya untuk mengambil uang yang dulu ia setorkan ke asuransi saja, adapun uang selebihnya maka hendaknya dia sedekahkan kepada fakir miskin. 

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata: “Bila ditakdirkan terjadi kecelakaan maka ambillah secukupnya uang yang kita bayarkan pada perusahaan asuransi, adapun selebihnya maka jangan mengambilnya karena kita tidak berhak mendapatkannya dan kita yakin bahwa akad tersebut haram dan bathil. Dan bila perusahaan tetap memaksa untuk mengambilnya, maka ambil dan sedekahkan dengan niat melepaskan diri dari perkara haram. Demikianlah solusinya”.   (Syarh Mumti’: 10/327, cet. Dar Ibnil Jauzi)

9. Orang yang hilang 

Apabila ada orang yang hilang sehingga tidak diketahui kabarnya apakah masih hidup ataukah sudah meninggal dunia, maka hendaknya dia ditunggu sampai batas waktu yang ditentukan oleh hakim, kemudian jika batas waktunya telah habis maka dia dihukumi telah meninggal dunia lalu setelah itu baru mulai hukum-hukum yang berkaitan dengan wafat  seperti ‘iddah dan pembagian warisan. Inilah Pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Mumti’ 13/373-374. Adapun pendapat yang masyhur dari khulafau rosyidin adalah menunggu selama empat tahun lamanya.

10. Makan Harta Bantuan Bencana

Termasuk kedustaan yang besar adalah mengambil bantuan bencana padahal dia tidak termasuk kena bencana. Sungguh ini adalah penipuan dan kedustaan yang haram karena makan harta dengan cara yang bathil, apalagi perlu kita ingat bahwa ini adalah uang umum.

Dan hendaknya juga bertaqwa kepada Allah orang-orang yang diberi amanat untuk menyalurkan bantuan kepada korban bencana baik oleh pemerintah atau masyarakat umum jangan sampai dia korupsi atau tidak menyalurkan sebagai mestinya. 

Nabi bersabda:

إِنَّ رِجَالاً يَتَخَوَّضُونَ فِي مَالِ اللهِ بِغَيْرِ حَقٍّ فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Ada beberapa orang yang menyalurkan harta Allah bukan pada jalurnya, bagi mereka neraka besok pada hari kiamat. (HR. Bukhori: 3118)

Baca juga: Mengetuk Pintu Langit Agar Tidak Kebanjiran

11. Sholat Ghoib

Sebagian orang tatkala mendengar adanya korban dalam bencana, mereka melakukan sholat ghoib. Apakah disyari’atkan melakukan sholat ghoib untuk para korban bencana? Masalah ini diperselisihkan oleh para ulama dalam beberapa pendapat:

  • Sholat ghoib tidak disyari’atkan secara mutlak, karena sholat ghoib yang dilakukan oleh Nabi adalah khusus untuk beliau. Ini madzhab Abu Hanifah, Malik, dan sebuah riwayat dari Ahmad.
  • Sholat ghoib disyari’atkan secara mutlak, dengan dalil sholatnya Nabi pada Najasyi. Ini madzhab Syafi’i dan pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad.
  • Tidak disyari’atkan kecuali pada orang yang memiliki jasa besar.
  • Tidak disyari’atkan kecuali apabila mayit diketahui belum ada yang mensholatinya. Pendapat inilah yang paling kuat, karena banyak para sahabat Nabi yang meninggal dunia pada zaman beliau tetapi tidak dinukil bahwa beliau mensholati mereka. (Muqoddimah Syaikh Abdulloh as-Sa’ad terhadap risalah al-Qoul Shoib Fi Hukmi Sholatil Ghoib karya Sami Abu Hafsh.

Lihat pembahasan bagus tentang sholat ghoib dalam Ahkamul Jana’iz kar. Syaikh al-Albani (hlm. 115–120).

12. Qunut Nazilah

Apakah disyari’atkan bagi kaum muslimin untuk melakukan qunut nazilah karena bencana? Syaikh Ibnu Utsaimin mengutarakan masalah ini dan menjawabnya. Kata beliau, “Apabila kaum tertimpa suatu bencana yang tidak ada kaitannya dengan anak Adam seperti wabah, tsunami, gempa bumi, apakah seseorang hendaknya melakukan qunut atau tidak? Jawabannya: Tidak qunut, sebab bencana seperti ini sering menimpa pada zaman Nabi namun beliau tidak melakukan qunut. Dan setiap hal yang faktor penyebabnya sudah ada pada zaman Nabi tetapi beliau tidak melakukannya padahal tidak ada yang menghalanginya maka itu tidak disyari’atkan. Ini adalah kaidah berharga yang hendaknya seseorang menggigitnya dengan gigi geraham karena sangat berfaedah.”. (Fathu Dzil Jalali wal Ikrom Syarh Bulughul Marom (3/295). Lihat pula Jami’ul Masa’il Fi Ahkami Qunut Nawazil kar. Sa’ad bin Sholih az-Zaid (hlm. 56).

13 Jangan Menambah Bencana di Atas Bencana

Sebagian orang bertindak konyol, ingin menolak bala dari mereka, tetapi alih-alih bala tersebut berkurang, justru semakin parah dan bertambah. Sebabnya tidak lain banyak sekali amalan tolak bala yang bertentangan dengan agama, seperti acara kirim tumbal dan sesejen, karena adat kirim tumbal dan sesajen bukanlah dari ajaran Islam. Justru Islam telah membatalkan hal ini.  

Demikian juga acara doa bersama tolak bala’ karena hal itu tidak ada syari’atnya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani mengatakan, “Pada asalnya, do’a untuk menghilangkan wabah tidaklah terlarang. Namun, berkumpul untuk berdo’a bersama seperti pada sholat istisqo’ maka ini termasuk bid’ah (perkara baru) dalam agama…Seandainya hal itu disyari’atkan, tentu tidaklah samar bagi salaf dan bagi para ulama sepanjang zaman, sedangkan tidak dinukil dari mereka hadits atau atsar satu pun.” (Badzlul Ma’un (328–330) secara ringkas)

Al-Hafizh as-Suyuthi juga menguatkan tidak bolehnya. Kata beliau, “Hal itu tidak ada dalilnya yang shohih dari Nabi .” Lanjutnya lagi, “Bencana seperti itu terjadi pada masa Imam Huda Umar bin Khoththob, sedangkan para sahabat saat itu masih banyak, namun tidak dinukil dari seorang pun dari mereka yang melakukan ritual (do’a bersama) tersebut.” (Ma Rowahu Wa’un Fi Akhbari Tho’un (hlm. 167). Dan lihat masalah ini secara luas dan detail dalam risalah Hukmu Tada’ili Fi’li Tho’ath fi Nawazil wa Syada’id al-Mulimmat kar. Syaikhuna Masyhur bin Hasan Alu Salman).

Demikianlah penjelasan ringkas tentang hukum-hukum seputar banjir. Semoga bermanfaat bagi semuanya. Ya Allah, jagalah kami dan perbaikilah negeri kami, berikanlah kepada kami kebahagiaan dunia dan akherat. Amiin.

Silakan dibagikan:

Leave a Comment