Home » Artikel Islami » Bagaimana Dengan Saudaramu Seiman?

Bagaimana Dengan Saudaramu Seiman?

Bagaimana dengan saudaramu seiman?

Allah Memerintahkan Kita Bercakap Baik Kepada Orang Kafir

Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk bercakap baik hingga kepada orang kafir kepada-Nya dalam menyampaikan risalah dakwah.

Firman Allah al-Hakim:

وَجَادِلهُمْ بِالَّتي هِيَ أَحْسَن

“Bantahlah mereka dengan cara yang terbaik.” [Q.S. An-Nahl: 125]

Menurut Abu Shalih, mereka adalah kaum kuffar Ahli Mekkah. Sementara menurut Muqatil, mereka adalah Ahli Kitab. [Zad al-Masir, 2/593]

Dan kesemua dari mereka adalah orang-orang kafir musuh Allah Ta’ala.

Bagaimana Jika Kepada Saudara Seiman?

Kepada orang kafir saja dalam berdakwah, kita diperintahkan untuk merealisasikannya dengan cara yang terbaik, maka bagaimana dengan saudaramu seiman yang sama-sama menyembah Allah Ta’ala?!

Allah Ta’ala berfirman:

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: ” Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar).” [Q.S. Al-Isra: 53]

Manusia diberi fitrah berupa kenyamanan mendengar kalimat yang santun dan ketidaknyamanan mendengar kalimat yang memancing emosi dan pertikaian.

Lazimnya Menyeru Kebaikan Dengan Kata Yang Baik

Adalah kelaziman bagi orang yang menyeru kebaikan untuk memilih kalimat yang paling mengena tanpa ada sisipan emosi. Kerapkali kalimat menyihir manusia, disebabkan ketepatan pilihan dan ketulusan pengucapnya.

Abdullah bin Umar menceritakan ada dua orang dari penduduk Masyriq datang kepadanya, lalu keduanya berkhutbah hingga orang-orang takjub dengan penjelasannya, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِنَ البَيَانِ لَسِحْرَا

“Sesungguhnya dalam penjelasan (bayan) itu mengandung sihir.” [H.R. Al-Bukhary, no. 5767]

Maka, bisakah kita mengucapkan kalimat dakwah tanpa ada maksud menyakiti pihak lain?

Mencontoh Nabi Dalam Berdakwah

Ummu Ayyub, seorang shahabiyyah, menceritakan bahwa beliau membuatkan makanan yang di dalamnya ada beberapa kubis untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun beliau tidak memakannya.

Beliau bersabda:

إِنِّي أَكْرَهُ أَنْ أُوذِيَ صَاحِبِي

“Aku tidak ingin menyakiti sahabatku (yaitu Jibril).” [H.R. Ibnu Majah, no. 3355]

Memakan kubis, bawang mentah dan semisalnya, tidaklah haram. Tetapi Nabi shallallahu alaihi wa sallam ingin mencontohkan kita betapa beliau sangat tidak suka menyakiti sahabat beliau, walau sebatas aroma mulut saat shalat.

Padahal, umumnya lisan jauh lebih menyakiti dibandingkan aroma mulut.

Maka, mari kita mencontoh Nabi dalam berdakwah, dengan menyeleksi kembali kalimat-kalimat yang kita tuturkan.

Barangkali dengan berusaha menjadi lebih baik lagi, Allah Ta’ala melihat adanya kejujuran, sehingga perjalanan kita diberi taufiq dan keberkahan oleh-Nya. Wa billahi at-taufiq.

Ditulis oleh Ustadz Hasan al-Jaizy

11 Rajab 1441 / 5 Maret 2020

Artikel: SeptyanWidianto.web.id

[artikel number=4 tag=”adab”]

Silakan dibagikan:

Leave a Comment