Ayah Dalam Keluarga

Ayah Dalam Keluarga

Ayah Dalam Pandangan Islam

Dalam pandangan Islam ayah memiliki kedudukan yang mulia. Sebagai pemimpin keluarga, ayah mengemban tanggung jawab besar dan berat. Allah berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ} [التحريم : 6]

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At Tahrim: 6)

Suatu hari nanti dia akan berdiri di hadapan Allah guna mempertanggungjawabkan tugasnya dalam memimpin, mengurus, membimbing dan mendidik istri dan anaknya. Baginda Nabi ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ : الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan ditanya (bertanggungjawab) tentang yang dipimpinnya: seorang imam/kepala adalah pemimpin akan ditanya (bertanggungjawab) tentang yang dipimpinnya dan seorang suami/ayah adalah pemimpin akan ditanya (bertanggungjawab) tentang yang dipimpinnya.” (HR. Al Bukhari no. 893)

Peran Ayah di Dalam Keluarga

Lebih khusus lagi ayah bertanggungjawab terhadap pendidikan dan akhlak anak-anaknya. Peran ayah dalam mendidik dan membentuk akhlak anak-anaknya lebih besar di banding ibu. Sebab, jika ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya, maka ayah adalah kepala madrasahnya, begitu kata para pakar pendidikan. Ayah memiliki kekuatan pengaruh bagi anak yang tidak dimiliki oleh yang lainnya.

Ayah, bagi anaknya yang kecil itu adalah sosok yang hebat dan sempurna. Di mata anak, yang baik ada apa yang dilakukan ayah dan yang buruk adalah ditinggalkan ayah. Anak itu lebih banyak meniru, dan yang paling ditirunya adalah ayahnya. Kebaikan dan kerusakan anak banyak dibentuk oleh kebaikan dan kerusakan ayah.

Berabad-abad yang lalu Ibnu Qayyim Al Jauziyyah telah mengatakan:

“Siapa yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya mengenai perkara-perkara yang bermanfaat untuk anaknya dan membiarkannya sia-sia (begitu saja) maka sungguh dia telah berbuat buruk kepada anaknya seburuk-buruknya.

Dan kebanyakan, kerusakan anak-anak itu datangnya dari sisi ayah dan juga karena ayah tidak memperhatikan anak-anaknya serta tidak mengajari mereka kewajiban-kewajiban dan sunah-sunah agama. Dengan begitu ayah menyia-nyiakan anak-anaknya di masa kecil sehingga anak-anak itu tidak bermanfaat untuk diri mereka sendiri dan tidak juga memberi manfaat bagi ayahnya di masa tua.” (Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud hal. 229)

Apa yang diutarakan oleh Ibnu Qayyim itu kini telah diamini oleh para pakar pendidikan. Sebagian besar perilaku menyimpang itu tidak lepas dari kerusakan ayah dalam pengasuhan dan pendidikan serta keteladanan, baik itu dari sisi ketidakadilan, kurang komunikasi, kurang kebersamaan dan lain sebagainya.

Ayah Harus Pandai Meneliti Karakternya Sendiri

Oleh karena itu, jauh sebelum menyalahkan istri dan anak, seorang ayah harus berpikir lebih dalam mengenai dirinya dan harus bercermin melihat karakter dirinya. Apakah sebagai ayah dia telah memiliki karakter seorang ayah yang baik dan berkualitas? Apakah dia telah mendidik dirinya sendiri agar dapat mendidik istri dan anak-anaknya?

Jika anak-anak terlantar pendidikan agama dan akhlak maka mereka akan tumbuh menjadi generasi yang lemah, rusak dan bermental buruk. Jika itu terjadi, maka memperbaikinya jauh lebih sulit. Jauh sebelum meminta agar anak berbakti kepada dirinya, seorang ayah wajib berbakti kepada anaknya dengan memberi pengasuhan yang baik dan maksimal, dengan memberi pendidikan agama dan membentuk akhlak mulia. Jika ayah tidak memberikan pengasuhan yang baik, pendidikan agama yang benar, keteladanan yang mulia maka dia telah durhaka kepada anaknya sebelum sang anak durhaka kepadanya.

Oleh Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri.

Baca juga:

Silakan dibagikan:

Leave a Comment