Home » Artikel Islami » Apakah Muslim Merayakan Tahun Baru?

Apakah Muslim Merayakan Tahun Baru?

Apakah seorang muslim merayakan tahun baru? Ini adalah pertanyaan yang hampir selalu diperdebatkan setiap tahunnya oleh umat Muslim.

Sebenarnya bolehkah seorang muslim itu merayakan tahun baru? Bagaimana hukumnya menurut para Ulama?

Sebelum kita membahas hukumnya, coba kita cek dulu. Sejarah merayakan tahun baru.

Sejarah Tahun Baru Masehi

Perayaan tahun baru masehi memiliki sejarah panjang. Banyak di antara orang-orang yang ikut merayakan hari itu tidak mengetahui kapan pertama kali acara tersebut diadakan dan latar belakang mengapa hari itu dirayakan. Kegiatan ini merupakan pesta warisan dari masa lalu yang dahulu dirayakan oleh orang-orang Romawi. Mereka (orang-orang Romawi) mendedikasikan hari yang istimewa ini untuk seorang dewa yang bernama Janus, The God of Gates, Doors, and Beeginnings. Janus adalah seorang dewa yang memiliki dua wajah, satu wajah menatap ke depan dan satunya lagi menatap ke belakang, sebagai filosofi masa depan dan masa lalu, layaknya momen pergantian tahun. (G Capdeville “Les épithetes cultuels de Janus” inMélanges de l’école française de Rome (Antiquité), hal. 399-400)

Fakta ini menyimpulkan bahwa perayaan tahun baru sama sekali tidak berasal dari budaya kaum muslimin. Pesta tahun baru masehi, pertama kali dirayakan orang kafir, yang notabene masyarakat paganis Romawi.

Acara ini terus dirayakan oleh masyarakat modern dewasa ini, walaupun mereka tidak mengetahui spirit ibadah pagan adalah latar belakang diadakannya acara ini. Mereka menyemarakkan hari ini dengan berbagai macam permainan, menikmati indahnya langit dengan semarak cahaya kembang api, dan sebagainya.

Dari pernyataan di atas, terlihat jelas bahwa itu adalah perayaan orang-orang kafir. Bukan berasal dari Islam.

Baca juga: Muslim Tidak Merayakan Hari Raya Agama Lain

Islam Melarang Bertasyabuh

Nabi shallallahu alaihi wassallam mengingatkan kita agar kita tidak mengikuti kebiasaan atau ritual ibadah orang-orang kafir, sebagaimana sabda Beliau:

من تشبه بقوم فهو منهم

Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.” (Hadis shahih riwayat Abu Daud)

Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan,

من بنى بأرض المشركين وصنع نيروزهم ومهرجاناتهم وتشبه بهم حتى يموت خسر في يوم القيامة

“Siapa yang tinggal di negeri kafir, ikut merayakan Nairuz dan Mihrajan (hari raya orang majusi), dan meniru kebiasaan mereka, sampai mati maka dia menjadi orang yang rugi pada hari kiamat.”

Jika kita ikut merayakan hal tersebut, maka Aqidah kita akan dipertanyakan. Apakah kita masih mau mengikuti perayaan tahun baru tersebut?

Kemudian, di dalam perayaan tahun baru sebagai seorang Muslim, maka akan ada kerusakan-kerusakan yang terdapat pada perayaan tahun baru.

Kerusakan Dalam Merayakan Tahun Baru

Merayakan Tahun Baru Berarti Merayakan Hari I’ed ( Perayaan yang Haram )

Anas bin Malik mengatakan,

كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى

“Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’” ( HR. An Nasa-i no. 1556. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Namun setelah itu muncul berbagai perayaan (’ied) di tengah kaum muslimin. Ada perayaan yang dimaksudkan untuk ibadah atau sekedar meniru-niru orang kafir. Di antara perayaan yang kami maksudkan di sini adalah perayaan tahun baru Masehi. Perayaan semacam ini berarti di luar perayaan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maksudkan sebagai perayaan yang lebih baik yang Allah ganti. Karena perayaan kaum muslimin hanyalah dua yang dikatakan baik yaitu Idul Fithri dan Idul Adha.

Meniru Perbuatan Setan Karena Melakukan Pemborosan

Tidak dapat dipungkiri, perayaan malam tahun baru penuh dengan banyaknya pemborosan/pengeluaran uang yang berlebih. Karena begitu banyak acara.

Baca juga: Hakekat Harta Sesungguhnya

Paling minim contohnya adalah membeli banyak kembang Api untuk dinyalakan untuk merayakaan malam pergantian tahun.

Belum lagi untuk melakukan barbeque party dan sebagainya. Sudah pasti mengeluarkan uang yang sangat banyak dalam satu malam.

Padahal Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan dengan firman-Nya:

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (Qs. Al Isro’: 26-27)

Ibnu Katsir mengatakan, “Allah ingin membuat manusia menjauh sikap boros dengan mengatakan: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” Dikatakan demikian karena orang yang bersikap boros menyerupai setan dalam hal ini.

Ternyata melakuakan pemborosan itu bagian dari perbuatan syaitan. Naudzubillah.

Mengganggu Kaum Muslim

Di dalam merayakan tahun baru sudah pasti begitu ramai riuh dengan suara petasa, kebang api, terompet dan sebagai macamnya. Tentu hal ini akan menimbulkan polusi suara yang begitu banyak.

Padahal pada malam tahun baru, bisa saja ada tetangga kita yang sedang sakit, sehingga membutuhkan waktu untuk beristirahat. Pasti mereka akan terganggu dengan hal-hal ramai yang dihasilkan dari perayaan tahun baru itu.

Baca juga: Cinta Kepada Sesama Muslim

Sebagai seorang Muslim kita dilarang untuk mengganggu orang lain sebagai mana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Seorang muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain.”( HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 41)

Kesimpulan

Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, didapati bahwa seorang Muslim hendaknya tidak merayakan tahun baru, lebih baik pergunakan waktu dengan baik dengan banyak berdzikir/mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Karena tidak ada yang spesial di dalam pergantian tahun. Seorang Muslim, harus selalu semakin membaik dari hari ke hari.

Hari-hari semakin bertambah waktu kita di dunia pun semakin berkurang. Alangkah lebih baiknya jika dilakukan detik demi detik, menit demi menit hingga tahun demi tahun untuk senantiasa mencari ilmu-ilu syar’i yang akan semakin mendekatkan kita kepada Sang Pencipta yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semoga mencerahkan.

Disusun oleh Septyan Widianto

Sumber: Rumaysho, Konsultasi Syariah

[artikel number=4 tag=”aqidah”]

Silakan dibagikan:

Leave a Comment